GMPI Sumenep Gelar Seminar Kebangsaan Bersama Milenial dan Gen Z

SUMENEP – Pimpinan Cabang Generasi Muda Pembangunan Indonesia (PC GMPI) Kabupaten Sumenep menggelar acara Seminar Kebangsaan  dalam peringatan Hari Lahir GMPI ke-30 dengan tema “Politik Identitas dan preferensi millenial dalam pemilu 2024′ di Sumenep, Senin (16/10/2023).

Acara seminar Kebangsaan ini menghadirkan narasumber diantaranya, Dr. H Rahbini Ketua KPU Sumenep, Achmad Subaidi
Ketua Bawaslu, dan Moh. Mahsun Al Fuadi presma Universitan Wiraraja

Dalam sambutannya, Ketua PC GMPI Kabupaten Sumenep Abdul Majid Muslim, mendorong agar pemuda dalam hal ini generasi milenial dan Gen Z menjadi garda depan memberikan pendidikan politik tentang politik identitas agar supaya tercipta kerukunan dan harmoni pada Pemilu 2024 mendatang.

“Pemilih pemula / millenial harus menjadi garda terdepan dalam memahami dan memberikan pendidikan politik tentang politik identitas agar supaya tercipta kerukunan dan harmoni dalam menghadapi pemilu 2024,” Kata Majid.

Lebih lanjut, Majid menyebut bahwa GMPI Sumenep akan mengambil bagian dalam memberikan pendidikan politik bagi anak-anak muda terutama di media sosial.

“GMPI Sumenep akan menjadi pioneer untuk ikut mengawal dan memberikan pencerahan dan gagasan kepada sesama pemilih millenial terutama di medsos terkait politik identitas,” sambung dia.

Berita Terkait:  Hati-hati, Ini Bahaya Bergadang Mulai dari Jangka Pendek Hingga Panjang

Pemilih usia 17 hingga 30 tahun sebanyak 63.953.031 orang atau 31,23 persen, sementara pemilih usia 31 hingga 40 tahun sebanyak 42.398.719 orang atau 20,70 persen. Maka suara mereka sudah hampir 52 persen jika digabungkan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bawaslu Sumenep, Achmad Subaidi mengapresiasi kegiatan PC GMPI Kabupaten Sumenep, ia menyebut anak muda harus menjadi menyanggah politik identitas.

Menurut dia, preferensi pemilih
politik identitas mempengaruhi preferensi pemilih dengan mengaitkan identitas mereka dengan partai politik atau kandidat tertentu.

“Faktor seperti ras, agama, etnisitas, gender, dan orientasi seksual dapat menjadi dasar bagi pemilih dalam menentukan pilihan mereka,” jelas dia.

Untuk itu, dia mendorong agar solidaritas dan identitas kelompok
Politik identitas dapat memperkuat solidaritas dan identitas kelompok, membuat pemilih merasa terhubung dan mewakili nilai-nilai, kepentingan, atau aspirasi mereka.

“Hal ini dapat menciptakan rasa kohesi dalam kelompok identitas tertentu dan mendorong partisipasi politik mereka,” pungkasnya.(*)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles