Akhirul Kalam Khairul Kalam

Oleh : Achmad Baidowi
Sekretaris Fraksi PPP DPR RI/Ketua Bidang BUMN MN KAHMI

Namanya Khairul Kalam, cukup populer di kalangan aktivis dan juga politisi di Madura, khususnya Pamekasan. Dia termasuk aktivis-politisi yang cemerlang dan tepat dalam menempatkan posisi. Selepas dari jabatan Ketua Umum HMI Cabang Pamekasan, Khairul Kalam masuk ke lingkaran politik praktis di Pamekasan. Bersama almarhum Adi Purnawan, Bang Khairul – begitu saya menyapanya – menjadi bagian dalam proses naiknya Achmad Syafi’i sebagai Bupati Pamekasan tahun 2003. Saat itu pemilihan bupati masih dilalukan oleh DPRD. Atas dorongan kelompok aktivis muda itulah, Achmad Syafi’i yang menjabat Ketua DPRD terdorong maju dalam pemilihan bupati. Syafi’I pun mendapat dukungan dari kyai kharismatik PPP saat itu. Berangkatnya Achmad Syafi’I sebagai calon bupati cukup mengejutkan dan mengubah peta politik di Pamekasan yang saat itu. Hasilnya Achmad Syafi’I unggul tipis dan berhak menduduki kursi Pamekasan 1.

Maka, Ketika Achmad Syafi’I memegang kendali pemerintahan, kedua tokoh muda itu sering dilibatkan dalam merumuskan kebijakan. Mereka berdua menjadi bagian inner circle Achmad Syafi’I. Kemudian, mereka berdua diajak masuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada Pemilu 2004 untuk maju sebagai calon legislatif ( caleg) DPRD Kabupaten Pamekasan. Keduanya terpilih dan menjadi bagian penting dalam perjalanan Fraksi PPP DPRD Pamekasan. Hadirnya mereka berdua menjadi angin segar bagi PPP Pamekasan yang saat itu didominasi politisi senior. Bang Khairul sering menghiasi media massa menyampaikan sikap politik Fraksi PPP DPRD Pamekasan.

Saya berkenalan secara langsung dengan bang Khairul saat bertugas sebagai jurnalis Koran Seputar Indonesia (SINDO) wilayah Madura dengan home base di Pamekasan. Sebelumnya hanya mendengar namanya, ketika Bang Khairul menjadi salah satu pengajar di MA Darul Ulum Banyuanyar (DUBA), almamater saya. Saya saat itu sedang kuliah di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Banyak teman seangkatan sewaktu di Madrasah menjadi pengelola MA DUBA. Dari merekalah saya mendengar tentang sosok Bang Khairul.

Berita Terkait:  Harian DI’s Way: Langkah Dahlan Iskan Menyelamatkan Industri Surat Kabar?

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pertengahan tahun 2006, saya berkesempatan bertemu langsung. Yang diceritakan teman-teman pengelola MA DUBA benar adanya. Bang Khairul memang sosok yang hebat sesuai dengan yang digambarkan.

Hubungan kami semakin dekat ketika Bupati Pamekasan Achmad Syafii memberikan atensi kepada Bang Khairul untuk berkomunikasi dengan saya. Saya tidak tahu kenapa ada atensi khusus. Mungkin karena saya seorang jurnalis alumni DUBA dan juga pernah di HMI menjadi pertimbangan bupati. Terlebih saat itu, Pak Syafi’i mau maju dalam Pilkada 2008. Namun, hubungan kami tidak berlangsung lama, karena pada pertengahan tahun 2007 saya harus pindah tugas ke Jakarta untuk meliput di Gedung DPR. Meski demikian, komunikasi tetap berjalan, baik melalui pesan pendek ataupun telepon. Setiap ada kesempatan ke Jakarta Bang Khairul selalu memberi kabar. Jika tidak sibuk kami menyempatkan bertemu sambil ngopi dan bernostalgia.

Tahun 2009, saya mendengar kabar Bang Khoirul pindah ke Partai Demokrat. Termasuk juga Achmad Syafi’i yang awalanya maju sebagai caleg DPR dari PPP, namun ternyata juga pindah ke Demokrat. Alasannya, waktu itu peluang di partai besutan SBY itu lebih terbuka karena sudah menerapkan suara terbanyak dalam penentuan caleg terpilih. Saya menduga ini hasil lobi dari mas Anas Urbaingrum (Ketua Bidang Politik DPP Partai Demokrat) melalui Ketua DPC Partai Demokrat Pamekasan Imam Rois, yang juga koleganya Achmad Syafi’I. Langkah Bang Khairul ini ternyata juga diikuti oleh Adi Purnawan. Hebatnya, mesikpun pindah partai, Khairul Kalam dan Adi Purnawan tidak bisa dilakukan Pergantian Antar Waktu (PAW) oleh PPP. Karena terjadi kesalahan administrasi yang menyebabkan batas akhir masa pengajuan PAW terlewati. Khusus mengenai hal ini, biarlah Cak Imadoeddin dan Kak Akhmad Mukhlisin, Ketua dan anggota KPUD Pamekasan waktu itu yang menjelaskan secara detail.

Berita Terkait:  LARRY KING, Wawancara dengan Sejarah

Di Pemilu 2009, Bang Khoirul terpilih sebagai anggota DPRD Fraksi Partai Demokrat dan mengantarkannya menempati posisi Wakil Ketua DPRD. Beberapa bulan usai dilantik, saya sempat bertemu Bang Khairul saat mengantar Pak Syafi’I ke Jakarta melakukan lobi-lobi politik terkait penempatannya di AKD DPR RI. Ada cerita menarik, Ketika mereka menginap di salah satu hotel di Jalan Pemuda, Jakarta Timur.

Saat itu, saya, Bang Khoirul dan beberapa teman menunggu Pak Syafi’I di Lorong kamar. Saat itu, jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Sudah dua jam kami menunggu, Pak Syafi’I tak kunjung keluar dari kamarnya. Beberapa kali pintu kamarnya diketuk tidak ada respons, pertanda kalau Pak Syafi’I terlelap.

Spontan saya berseloroh ke Bang Khairul. “Kalau yang begini ini tidak akan ditangkap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Bang. Politisi yang lain masih keluyuran, beliau sudah terlelap tidur,” kemudian kami tertawa lepas.

Pemilu Tahun 2014 beliau tak lagi terpilih menjadi anggota DPRD. Kemudian tahun 2019 kesehatan semakin menurun sehingga tidak memungkinkan untuk maju sebagai calon anggota DPRD. Terakhir kali bertemu Bang Khiarul pada pertengahan tahun 2021 di kediaman Pak Syafi’I di Lawangan Daya, Pamekasan. Dalam momen itu ada kami berlima; yakni, Pak Syafi’I, Bang Khairul, Imam Rois, Ali Masykur dan saya. Kami pun kembali tertawa, bernostalgia mengenang cerita-cerita lama. Secara spontan Bang Khairul mengingat kembali seloroh saya saat di sebuah hotel di Jakarta Timur tahun 2009 itu.

Berita Terkait:  Memaknai Pancasila dari Ponpes Banyuanyar

“Lek, Saya ingat perkataanmu saat di hotel di Jakarta. Kalau yang begini ini tidak akan ditangkap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Bang. Politisi yang lain masih keluyuran, beliau sudah terlelap tidur. Ternyata benar, selama bapak (Achmad Syafi’I) tinggal di Jakarta aman-aman saja. Malah berurusan dengan KPK justru ketika bertugas di Pamekasan,”. Kami pun kembali tertawa lepas. Tak lama berselang, kami bubar melanjutkan agenda masing-masing.

Ternyata itu menjadi akhirul kalam (kalimat terakhir) Bang Khairul Kalam yang saya dengar langsung. Ketika berada di Schipol Amsterdam, Belanda saat menunggu penerbangan ke Santiago, Chile, tiba-tiba saya mendapatkan kabar duka bahwa Bang Khairul telah menghadap sang Khalik. Seketika, saya pun berdoa semoga dosa-dosanya diampuni dan amal ibadahnya diterima di sisi-Nya. Menyesal sekali, saya tidak bisa mengantar langsung Bang Khairul ke peristirahatan terakhir. Saya bersaksi Bang Khairul orang baik, semoga menjadi ahli surga. Selama jalan senior!.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles