Fakta Kepala Basarnas Terjerat Kasus Dugaan Suap Dengan Kode “Dana Komando”

JAKARTA – Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya Henri Alfiandi ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Penetapan tersangka itu menyusul operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK pada Selasa (25/7/2023) di dua tempat, yakni Cilangkap, Jakarta Timur dan Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat. Dalam OTT tersebut, KPK menangkap sejumlah pihak yang berkaitan dengan kasus suap itu. Berikut fakta kasus yang menjerat Henri Alfiandi:

  1. Jadi tersangka bersama anak buah dan pihak swasta Lihat Foto Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata mengungkapkan pihaknya menangkap anak buah Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas) Marsekal Madya Henri Alfiandi di sebuah Restoran Soto di Jatisampurna Bekasi, Jawa Barat dalam OTT pada Selasa (25/7/2023).

Selain Henri, KPK juga menetapkan empat orang lainnya sebagai tersangka dugaan kasus suap tersebut. KPK menetapkan bawahan Henri, yakni Koordinator Adminitrasi (Koorsmin) Kabasarnas RI, Letkol Adm Afri Budi Cahyanto. Penetapan tersangka ini dilakukan setelah KPK melakukan pemeriksaan dan gelar perkara bersama Pusat Polisi Militer (POM) TNI. “KPK kemudian menemukan kecukupan alat bukti mengenai adanya dugaan perbuatan pidana lain dan ditindaklanjuti ke tahap penyidikan dengan menetapkan dan mengumumkan tersangka,” kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata dalam konferensi pers di Gedung Juang KPK, Jakarta yang disiarkan melalui YouTube KPK RI, Rabu (26/7/2023). Selain Henri dan Afri Budi Cahyanto, tiga tersangka lainnya berasal dari pihak swasta.

Ketiga orang tersebut, yakni Mulsunadi Gunawan selaku Komisaris Utama PT Multi Grafika Cipta Sejati, Marilya selaku Direktur Utama PT Intertekno Grafika Sejati, dan Roni Aidil selaku Direktur Utama PT Kindah Abadi Utama. Kecuali Gunawan, para tersangka tersebut langsung ditahan KPK untuk menjalani proses hukum. “Untuk tersangka Gunawan, kami ingatkan untuk kooperatif segera hadir ke gedung Merah Putih KPK mengikuti proses hukum perkara ini,” ucap Alex.

Berita Terkait:  DPP PDIP Ajak Perempuan Indonesia Refleksi Kondisi Diri di Momen Perayaan Hari Kartini

2. Kasus terkait pengadaan barang KPK menyatakan kasus tersebut terkait lelang pengadaan barang di Basarnas. Ketiga pihak swasta diduga memberikan suap sebagai komitmen fee karena perusahaan mereka dikondisikan sebagai pemenang lelang proyek tersebut. Perusahaan Gunawan dan Marilya menjadi pemenang pengadaan peralatan pendeteksi korban reruntuhan dengan nilai proyek Rp 9,99 miliar. Sedangkan perusahaan Roni menjadi pemenang untuk proyek pengadaan Public Safety Diving Equipment dengan nilai kontrak Rp 17,4 miliar dan pengadaan ROV untuk KN SAR Ganesha dengan nilai kontrak Rp 89,9 miliar.

3. Kode suap “dana komando” KPK mengungkapkan, terdapat kode penyerahan uang suap kepada Henri, yakni “dana komando” atau “dako”. Kode itu digunakan untuk teknis penyerahan suap dari pihak swasta kepada Henri melalui orang kepercayaannya, Afri. “Kaitan teknis penyerahan uang dimaksud diistilahkan sebagai “dako” untuk Henri ataupun melalui Afri,” ucap Alex. Baca juga: Buntut Nadiem Makarim Copot Gelar Profesor Dua Guru Besar, Rektor UNS Dituding Tutupi Kasus Korupsi Rp 57 M Halaman Selanjutnya 4. Besaran fee ditentukan HenriKPK…

Berita Terkait:  “Banjir di Jakarta karena Drainase Buruk”

4. Besaran fee ditentukan Henri KPK menyebutkan bahwa ketiga orang pihak swasta menemui secara langsung Henri dan Afri agar dimenangkan dalam tiga proyek di Basarnas. Mereka pun membuat kesepakatan dengan Henri dan Afri. “Diduga terjadi deal terkait pemberian sejumlah uang berupa fee sebesar 10 persen dari nilai kontrak,” ujar Alex. “Penetuan besaran fee diduga ditentukan langsung oleh Henri,” lanjutnya.

5. Penyerahan uang suap di Mabes TNI Saat OTT, KPK berhasil mengamankan uang Rp 999,7 juta dari Afri. “Diamankan goodie bag yang disimpan dalam bagasi mobil Afri yang berisi uang Rp 999,7 juta,” kata Alex. Alex mengungkapkan, uang tersebut diserahkan kepada Afri di parkiran bank di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Ia menuturkan, suap di parkiran bank itu dilakukan oleh Marilya yang mendapatkan perintah Gunawan untuk memberikan uang Rp 999,7 juta. Sedangkan Roni menyerahkan uang sekitar Rp 4,1 miliar melalui aplikasi pengiriman setoran bank. “Atas penyerahan sejumlah uang tersebut, perusahaan Gunawan, Marilya, dan Roni dinyatakan sebagai pemenang tender,” ungkapnya.

Berita Terkait:  Sosialisasi 4 Pilar, Kohati Malang Gelar Dialog dengan Achmad Baidowi

6. Henri diduga menerima suap Rp 88,3 miliar KPK menduga Henri menerima suap dengan total RP 88,3 miliar melalui Afri dalam tiga tahun terakhir. “Henri bersama dan melalui Afri diduga mendapatkan nilai suap dari beberapa proyek di Basarnas tahun 2021 hingga 2023 sejumlah sekitar Rp 88,3 miliar dari berbagai vendor pemenang proyek,” tutur Alex. “Hal ini akan didalami lebih lanjut oleh tim gabungan penyidik KPK bersama dengan Tim Penyidik Puspom Mabes TNI,” sambungnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles