Fakta Dari Oppenheimer, Bapak Bom Atom

KANALBERITA.CO – Sosok Julius Robert Oppenheimer tengah diperbincangkan pencinta layar lebar menyusul dirilisnya film “Oppenheimer”. Dilansir dari Kompas TV, film tersebut mengisahkan perjalanan Oppenheimer sebagai ahli fisika yang dijuluki sebagai Bapak Atom.

Dikisahkan, Oppenheimer memimpin Proyek Manhattan untuk pengembangan bom atom selama Perang Dunia II setelah direkrut pemerintah AS. Sejauh yang diketahuinya, bom atom yang dikembangkan akan digunakan untuk mengalahkan kekuatan Nazi. Tetapi, bom atom tersebut justru digunakan oleh AS untuk meluluhlantakan Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Karena hal itu, Oppenheimer merasa bersalah dan memutuskan untuk mengendalikan senjata nuklir di sepanjang sisa hidupnya.

US nuclear physicist Julius Robert Oppenheimer (1904 – 1967), director of the Los Alamos atomic laboratory, testifying before the Special Senate Committee on Atomic Energy. (Photo by Keystone/Getty Images)

Terlepas dari perjalanan Oppenheimer sebagai ahli fisika dan tantangannya ketika menciptakan bom atom, sosoknya diliputi berbagai hal menarik. Dilansir dari History, berikut fakta soal Oppenheimer:

1. Mendukung gerakan kiri Great Depresion

atau Depresi Besar yang bermula pada 1929 mendorong minat terhadap hak pekerja dan komunisme di AS. Pada akhir 1930, Oppenheimer diketahui menghadiri acara yang mendukung gerakan kiri dan berlangganan surat kabar sayap kiri, People’s World. Meski begitu, penggagas bom atom tersebut tidak pernah secara resmi bergabung dengan Partai Komunis AS. Tetapi beberapa orang dalam hidupnya bergabung dengan partai tersebut, mulai dari saudara laki-laki, kekasih, dan istrinya sendiri. Jenderal Angkatan darat AS, Leslie Groves Jr, yang memilih Oppenheimer untuk memimpin Poryek Manhattan sebenarnya mengetahui bahwa ilmuwan ini memiliki kaitan dengan komunisme. Namun, ia tidak menganggap hal tersebut sebagai masalah yang besar. Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Lahirnya Partai Komunis Indonesia.

Berita Terkait:  Meriahkan Kemerdekaan, GMPI Banyuwangi Kirim 6 Regu Gerak Jalan

2. Belajar bahasa Sanskerta Lihat Foto Julius Robert Oppenheimer

Oppenheimer ternyata memiliki ketertarikan terhadap bahasa Sanskerta yang menjadi bahasa dalam kitab suci agama Hindhu. Halaman Selanjutnya Ia mempelajari bahasa tersebut ketika… Ia mempelajari bahasa tersebut ketika mengajar di Berkeley dan membaca Bhagavad Gita dalam bahasa Sansekerta. Ketertarikan Oppenheimer terhadap bahasa Sanskerta dapat dilihat ketika kisahnya diangkat melalui film “The Decision to Drop the Bomb”. Di film tersebut, Oppenheimer mengingat saat ia melihat uji coba bom nuklir pertama pada tanggal 16 Juli 1945. Ia berkata: “Kami tahu dunia tidak akan sama lagi. Beberapa orang tertawa, beberapa orang menangis, sebagian besar orang terdiam. Saya teringat sebuah kalimat dari kitab suci Hindu, Bhagavad Gita: Wisnu mencoba membujuk Pangeran agar ia melakukan tugasnya, dan untuk membuatnya terkesan, ia mengambil wujudnya yang bertangan banyak dan berkata, ‘Sekarang saya menjadi Maut, penghancur dunia. Saya kira kita semua pernah berpikir seperti itu, dengan satu atau lain cara.”

Berita Terkait:  Fraksi PPP Terima Aspirasi Serikat Pegawai Non PNS Bawaslu

3. AS cabut izin keamanan Oppenheimer Oppenheimer pernah dianugerahi Enrico Fermi Award oleh Presiden AS ke-35, John F Kennedy. Penghargaan tersebut diberikan pada 1963 atas pencapaian dalam bidang ilmiah dan kepemimpinannya. Meski begitu, pemerintah AS memutuskan untuk mencabut izin keamanan Oppenheimer pada 1954. Padahal, izin tersebut diperlukan Oppenheimer untuk terlibat di proyek senjata nuklir sehingga ia tidak bisa berpartisipasi untuk keamanan nasional. Oppenheimer tidak pernah mendapatkan kembali izin keamanannya namun ia terus berbicara dan menulis tentang fisika dan teknologi nuklir. Hal tersebut ia lakukan hingga kematiannya pada 1967 ketika berusia 62 tahun.

4. Pernah menolak bom hidrogen Setelas AS menjatuhkan boma atom ke Hiroshima dan Nagasaki, Oppenheimer menentang rencana negaranya untuk mengembangkan bom hidrogen yang disebut-sebut lebih mematikan dari bom yang pernah ia buat. Oppenheimer khawatir akan potensi kehancuran yang akan ditimbulkan oleh perlombaan senjata untuk membuat bom yang lebih besar dan lebih besar. Melihat sikap Oppenheimer, pengusaha Lewis Strauss sebagai Ketua Komisi Energi Atom pada 1953 menyatakan ketidaksukaannya terhadap sang ilmuwan. Strauss kemudian mengadakan sidang keamanan untuk menyelidiki kesetiaan Oppenheimer. Buntut dari sikap Oppenheimer yang menentang rencana pengembangan bom hidrogen, izin keamananya dicabut pada 1954.

Berita Terkait:  Anggota Komisi VI DPR Ingatkan Masyarakat Hati-hati dengan Pinjaman Online
FILE – Dr. J. Robert Oppenheimer, creator of the atom bomb, is shown at his study in Princeton University’s Institute for Advanced Study, Princeton, N.J., Dec. 15, 1957. The Biden administration has reversed a decades-old decision to revoke the security clearance of Oppenheimer, the physicist called the father of the atomic bomb for his leading role in World War II’s Manhattan Project. (AP Photo/John Rooney, File)

5. Ia juga menjadi salah satu orang di AS yang namanya masuk ke dalam daftar hitam. Pernah dijuluki bodoh oleh Albert Einstein Nama Oppenheimer yang berada di balik bom atom pernah dijuluki bodoh salah satu ilmuwan tercerdas di dunia, Albert Einstein. Dilansir dari Live Science, ungkapan bodoh yang diungkapkan Einstein bermula ketika ia bertemu Oppenheimer di Institute for Advanced Study, Princeton pada 1950-an. Pada saat itu, Oppenheimer mengatakan bahwa ia menyadari upaya untuk mencabut izin keamanannya. Kecerdasan Oppenheimer yang luar biasa dan pembelajarannya yang luas tidak selalu mengatasi ketidakdewasaan emosional dan kenaifan politiknya.

Einstein lalu menasihati Oppenheimer bahwa ia tidak perlu tunduk pada penyelidikan dan pengadilan oleh Komisi Energi Atom. Tetapi Oppenheimer menjawab bahwa ia akan melakukan lebih banyak kebaikan dari dalam pemerintahan Washington daripada dari luar. Ia juga mengatakan telah memutuskan untuk tetap berjuang meski hal ini akan membuat dirinya kalah. Jika Oppenheimer kalah, berakhir sudah sisa hidup sang ilmuwan. Setelah itu, Einstein berjalan ke kantornya sambil mengangguk pada Oppenheimer. Ia kemudian berkata kepada sekretarisnya, “Itulah narr (bahasa Yiddish untuk bodoh)”.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles