IHSG Anjlok, Penurunan Hampir di Semua Sektor

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan akhir pekan ini (10/3/23) berada di 6.765,30 atau terkoreksi 0,51% secara harian. Penurunan hampir seluruh sektor saham memicu anjloknya IHSG.

Terdapat 370 saham turun, sebanyak 164 saham naik dan 208 lainnya stagnan alias tidak berubah. Perdagangan menunjukkan nilai transaksi sekitar Rp 9,26 triliun dengan melibatkan 20,05 miliar saham.

Hari ini IHSG bergerak konsisten di wilayah negatif dan menyentuh level terendah harian di 6.741,41 serta memutus tren penguatan perdagangan dua hari sebelumnya.

Dalam lima hari perdagangan, gap koreksi masih menjadi 0,71%. Sejak awal tahun, IHSG masih membukukan pelemahan 1,25% (year to date).

Anjloknya IHSG tak lepas dari penurunan hampir seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI). Melansir Refinitiv, sembilan sektor melemah. Sektor energi menjadi sektor yang paling merugikan IHSG turun 1,31%. Sementara barang pokok menjadi satu-satunya yang menguat yakni sebesar 0,81%.

Adapun pemberat utama (laggard) IHSG sore ini berdasarkan beban indeks poinnya adalah sebagai berikut:

Berita Terkait:  Puan: Santri Harus Jadi Pelopor Penanggulangan Covid-19

1. Bank Central Asia (-8,87)

2. GOTO Gojek Tokopedia (-7,54)

3. Bank Mandiri (-3,53)

4. Bank Negar Indonesia (-2,35)

5. Astra International (-2,33)

6. Merdeka Copper Gold (-1,73)

7. Adaro Energy (-1,33)

8. Semen Indonesia (-1,16)

9. Mitra Adiperkasa (-1,13)

10. Kalbe Farma (-0,89)

Sentimen pasar kembali memburuk, terutama di Amerika Serikat (AS) setelah investor melepas saham-saham perbankan di AS. Hal ini terjadi setelah adanya indikasi bahwa perusahaan pemberi pinjaman industri teknologi SVB Financial Group menjual saham untuk menopang neraca karena penurunan simpanan dari startup yang berjuang untuk pendanaan.

Ini memicu kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga akan mengikis neraca emiten.

Alhasil, saham-saham perbankan di AS terkena aksi profit taking besar-besaran yang menyebabkan saham perbankan di AS mengalami koreksi parah.

Meski begitu, investor masih berfokus pada pernyataan Ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell pada Rabu dan Kamis.

Powell mengisyaratkan kenaikan suku bunga lebih lanjut membuat kegalauan pasar keuangan semakin nyata, yang membuat pasar terpecah antara menginginkan The Fed menurunkan inflasi, kendati demikian rasa khawatir juga muncul penurunan bakal berlebihan sehingga menyebabkan tekanan ekonomi yang terus berlanjut.

Berita Terkait:  KPPU Rekomendasikan Ini untuk Stabilisasi Harga Pangan Jelang Ramadhan

Selain itu, pasar masih memperhatikan data ketenagakerjaan di AS, di mana data ini menjadi salah satu penyebab The Fed masih mempertahankan sikap hawkish-nya.

Ekonomi AS kemungkinan menciptakan 205 ribu pekerjaan pada Februari 2023, di atas rata-rata bulanan 183 ribu antara 2010 dan 2019 dan 100 ribu per bulan dianggap perlu untuk mengimbangi pertumbuhan populasi usia kerja, terus menunjukkan pasar tenaga kerja yang ketat, meskipun tinggi harga konsumen dan biaya pinjaman. (*)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles