Mayoritas Bursa Asia-Pasifik Ditutup Positif, IHSG Malah Terkoreksi

Jakarta – Pada perdagangan Senin (6/3/2023), mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup menguat, di mana investor masih cenderung merespons positif dari pulihnya perekonomian China belakangan ini.

Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup melesat 1,11% ke posisi 28.237,8, Hang Seng Hong Kong naik 0,17% ke 20.603,189, Straits Times Singapura menguat 0,29% ke 3.241,3, ASX 200 Australia terapresiasi 0,62% ke 7.328,6, dan KOSPI Korea Selatan melonjak 1,2% menjadi 2.462,62.

Sementara untuk indeks Shanghai Composite China turun 0,19% ke posisi 3.322,03 dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,1% menjadi 6.807.

Dari China, ekonominya mampu ‘mengaum’ dan mencatatkan peningkatan tajam selama 2 bulan beruntun. Ini mengisyaratkan bahwa negara yang dipimpin oleh Xi Jinping ini akan bangkit lebih cepat dari yang diperkirakan setelah sempat terseret akibat pembatasan ketat Covid-19.

Sebelumnya, aktivitas manufaktur naik pada laju tercepat dalam lebih dari satu dekade pada Februari, sementara pesanan ekspor meningkat untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun, Biro Statistik Nasional (NBS) mengatakan Rabu lewat laporan Purchasing Managers Indeks (PMI).

Berita Terkait:  Tidak Melulu Kopi, Minum 5 Jus Buah Ini yang Baik untuk Sarapan

Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur resmi China naik menjadi 51,6 bulan lalu dari 50,1 pada Januari, survei sektor swasta juga menunjukkan aktivitas meningkat untuk pertama kalinya dalam 7 bulan.

PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di bawahnya adalah kontraksi sementara di atasnya ekspansi.

Sementara itu dari Korea Selatan, inflasi pada periode Februari 2023 cenderung melambat, meredakan kekhawatiran pasar di Negeri Ginseng terhadap sikap bank sentral yang juga memantau dengan cermat risiko luar negeri termasuk pengetatan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) yang lebih tajam.

Inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) Korea Selatan periode Februari 2023 dilaporkan turun menjadi 4,8% (year-on-year/yoy), dari bulan sebelumnya sebesar 5,2%.

Sedangkan secara bulanan (month-to-month/mtm), CPI Negeri Ginseng bulan lalu juga turun menjadi 0,3%, dari sebelumnya pada Januari 2023 sebesar 0,8%.

Namun, bank sentral Korea Selatan (Bank of Korea/BoK) mungkin masih memutuskan untuk menaikkan biaya pinjaman lebih lanjut karena bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) sedang berjuang untuk menahan inflasi AS.

Berita Terkait:  Wow, Pengeluaran Bulanan Pasangan Andhika - Ussy Rp 450 Juta

BoK telah menaikan 50 basis poin (bp) dua kali tahun lalu untuk mengimbangi pengetatan The Fed dan memperlambat depresiasi won terhadap dolar AS.

Untuk saat ini, pasar mengharapkan kenaikan suku bunga lain dari BoK sebagai tanggapan atas pengetatan The Fed lebih lanjut dan sedang menunggu sinyal dari ketua The Fed, Jerome Powell dalam beberapa hari mendatang.

Di lain sisi, sentimen pasar cenderung mendapat dorongan setelah Presiden The Fed Atlanta, Raphael Bostic mengatakan bahwa dia mendukung The Fed dapat mempertahankan kenaikan suku bunga menjadi 25 bp daripada kenaikan setengah poin yang disukai oleh beberapa pejabat lainnya.

Namun, Gubernur The Fed Christopher J. Waller memberikan nada yang lebih keras dalam komentarnya kepada Koalisi Bank Ukuran Menengah Amerika, meningkatkan kemungkinan jika angka inflasi tidak turun. Dia merujuk pada pembacaan terbaru dari indeks harga konsumen dan laporan pengeluaran konsumsi pribadi.

“Jika laporan data tersebut terus masuk terlalu panas, kisaran target kebijakan harus dinaikkan lebih jauh tahun ini untuk memastikan bahwa kita tidak kehilangan momentum yang ada sebelum data untuk Januari dirilis,” kata Waller. (*)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: