Gejala Resesi Muncul, Harga Minyak Mentah Anjlok 8 %

Jakarta – Minyak mentah menjadi salah satu indikator kesehatan perekonomian. Harga minyak mentah anjlok sepanjang pekan ini, isu resesi dan suku bunga di Amerika Serikat (AS) menjadi pemicu kemerosotan. Ketika resesi terjadi, maka permintaannya akan menurun. Inflasi tinggi yang sedang melanda menjadi penyebab utama isu resesi ekonomi dunia.

Pelaku pasar pun mengantisipasi hal tersebut, sehingga sebelum resesi terjadi sudah berdampak pada harga minyak mentah. Melansir data Refinitiv, sepanjang pekan ini harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) anjlok hingga 7,9% ke US$ 73,39/barel, sementara jenis Brent jeblok 7,8% ke US$ 79,94/barel.

Isu resesi dunia sudah berhembus kencang sejak tahun lalu. Inflasi tinggi serta kebijakan agresif bank sentral membuat perekonomian global terancam merosot.

Tetapi di awal tahun ini sebenarnya banyak muncul kabar baik. China kembali membuka perekonomian, yang memicu optimisme pelambatan ekonomi dunia tidak akan dalam. Selain itu, inflasi di beberapa negara juga mulai menurun, termasuk di Amerika Serikat.

Hal ini membuat bank sentral AS (The Fed) menurunkan laju kenaikan suku bunganya menjadi 25 basis poin ke 4,5% – 4,75%. Kenaikan tersebut lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 50 basis poin.

Berita Terkait:  GMPI Minta Polri Usut Tuntas Pendeta Sarifuddin Ibrahim soal 'Hapus 300 Ayat Al-Qur'an'

Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan sudah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 2,9%, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya 2,7%.

Namun, belakangan justru muncul kekhawatiran baru akibat perekonomian Amerika Serikat yang kuat, begitu juga dengan pasar tenaga kerja.

Secara mengejutkan perekonomian Paman Sam mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 517 ribu orang sepanjang Januari, jauh lebih tinggi di atas survei Reuters sebanyak 185 ribu orang.

Kemudian, tingkat pengangguran yang diprediksi naik menjadi 3,6% malah turun menjadi 3,4%. Rata-rata upah per jam masih tumbuh 4,4% year-on-year, lebih tinggi dari prediksi 4,3%.

Pasar tenaga kerja yang kuat, begitu juga dengan rata-rata upah berisiko membuat inflasi semakin sulit turun ke target The Fed 2%. Artinya ada risiko The Fed kembali akan agresif menaikkan suku bunga, dan dolar AS pun melesat.

Penguatan dolar AS memberikan dampak negatif ke minyak mentah. Sehingga, si emas hitam ini sebenarnya dalam dilema, resesi menyebabkan penurunan permintaan, sementara kuatnya ekonomi Paman Sam, bisa membuat The Fed kembali menaikkan suku bunga dengan agresif yang membuat dolar AS kembali menguat. (*)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles