Dolar Amerika Menguat, Rupiah dan Mata Uang Asia Jeblok

Jakarta – Hingga pertengahan perdagangan Jumat (27/1/2023) kemarin, nilai tukar rupiah dan beberapa mata uang utama Asia terpantau melemah. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari ekspektasi menjadi pemicu rontoknya mata uang utama Asia. Bayang-bayang resesi nampaknya belum menghampiri negara adikuasa tersebut.

Pada pukul 12:50 WIB, rupiah melemah 0,17% ke Rp 14.970/US$ di pasar spot, melansir data Refinitiv. Dengan pelemahan tersebut rupiah menjadi yang terburuk kedua, hanya lebih baik dari dolar Taiwan yang melemah 0,21%.

Mata UangKurs TerakhirPerubahan
USD/CNY6,78250,13%
USD/IDR14.9700,17%
USD/INR81,55500,17%
USD/JPY129,93-0,22%
USD/KRW1.231,75-0,01%
USD/MYR4,2320-0,26%
USD/PHP54.330-0,29%
USD/SGD1,31380,14%
USD/THB32,860,15%
USD/TWD30,2670,21%

Source: Refinitiv

Produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat kuartal IV-2022 dilaporkan tumbuh 2,9%, lebih tinggi dari ekspektasi 2,6%.

Sepanjang 2022, ekonomi Negara Paman Sam tumbuh 2,1%. Angka tersebut memang jauh di bawah pertumbuhan pada 2021 yang mencapai 3,2%. Namun, pertumbuhan terbilang tinggi di tengah hantaman tingginya inflasi dan suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang berada di level tertinggi dalam 15 tahun.

Berita Terkait:  Gol Gomez Antar Argentina Mantap di Puncak Klasemen Grup A Copa America

Selain itu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan data klaim tunjangan pengangguran pada pekan yang berakhir 21 Januari. Klaim yang diajukan sebanyak 186.000, menjadi yang terendah sejak April 2022.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang masih kuat, begitu juga dengan pasar tenaga kerja ada kemungkinan The Fed masih tetap agresif menaikkan suku bunga 50 basis poin pada pekan depan. Meski, pasar masih berekspektasi The Fed akan menaikkan 25 basis poin.

Kepala ekonom Spartan Capital Securities, Peter Cardillo, mengingatkan kendati ekonomi AS masih tumbuh cukup kuat, sinyal resesi masih terlihat. Kondisi ini tercermin dari banyaknya PHK serta aktivitas manufaktur yang masih lemah.

“Data bulanan jelas menunjukkan jika ekonomi AS kehilangan momentum pertumbuhan pada kuartal IV dan sepertinya akan berlanjut ke depan. Mungkin ini menjadi pertumbuhan positif terakhir sebelum ekonomi melemah. Kami masih memperkirakan jika ekonomi AS akan resesi di semester I,” tutur Cardillo, dikutip dari Reuters. (*)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles