Pencapaian IHSG & Pasar Modal RI Periode 2022

Jakarta – Dibandingkan tahun sebelumnya di 2021, pasar saham Indonesia sepanjang 2022 tumbuh lebih rendah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun ini hanya tumbuh sebesar 4,08% dibandingkan 2021 yang sebesar 10,08%. Penurunan pencapaian ini banyak dipengaruhi faktor global.

Namun, nilai kapitalisasi pasar modal RI naik lebih dari 15% dibanding tahun 2021 menjadi Rp 9.495 triliun per 29 Desember 2022 atau setara dengan US$ 600 miliar. Rata-rata nilai transaksi perdagangan yang bertumbuh sebesar 10,1 persen per 29 Desember 2022 menjadi Rp 14,7 triliun dibandingkan tahun 2021.

Sepanjang tahun 2022, dari periode 30 Desember 2021 hingga 29 Desember 2022, bursa Asia-Pasifik secara mayoritas berkinerja kurang menggembirakan, karena kondisi global yang diluar ekspektasi pasar dan banyak sekali gejolak di tahun 2022.

Hanya beberapa bursa saja yang berhasil mencatatkan kinerja yang cukup baik pada tahun ini, meski tidak sebaik seperti pada tahun lalu. Bursa Korea Selatan (KOSPI) menjadi yang paling parah koreksinya pada tahun 2022, di mana KOSPI sepanjang tahun 2022 ambruk 24,89%. Bahkan, bursa saham China (Shanghai Composite) dan Hong Kong (Hang Seng) juga ambles hingga berkisar 14% – 15%.

Berita Terkait:  Bisnis Quilt, Modal Kecil, Omset Puluhan Juta Rupiah

Adapun IHSG berada diurutan kedua setelah bursa India. Bursa saham Negeri Bollywood tersebut menjadi yang paling baik diantara bursa Asia-Pasifik lainnya, yakni melesat 5,78%. Kemudian ada Straits Times yang melesat nyaris 4%.

Sementara itu, khusus di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), hanya beberapa yang mencatatkan kinerja yang kurang baik pada tahun 2022. Lagi-lagi, IHSG menjadi salah satu bursa saham terbaik di kawasan Asia-Pasifik, meski IHSG masih kalah dengan bursa saham Laos.

Bursa saham Laos menjadi yang terbaik tahun 2022, yakni melonjak hingga 20,03%. Sedangkan IHSG berada diurutan kedua. Kemudian ada Straits Times Singapura, dan ada bursa Thailand (SET Index) yang menguat 0,22%.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyampaikan, di antara bursa ASEAN dan beberapa bursa global, Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan dari sistem kapitalisasi pasar, rata-rata nilai transaksi harian, serta pencatatan saham.

Menurutnya, di negara ASEAN maupun global, Bursa saham RI cenderung mengalami kontraksi pertumbuhan, seperti di Singapura, Korea Selatan, China, bahkan Jerman.

Berita Terkait:  Pertumbuhan Ekonomi RI 5,31%, Orang Miskin Malah Bertambah

Semoga seluruh capaian positif ini dapat bermanfaat tidak hanya bagi pasar modal Indonesia, namun juga bagi stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya,” tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi mengungkapkan, meskipun pertumbuhan lebih rendah dari tahun lalu, namun industri pasar modal Tanah Air lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga.

Menurutnya, industri pasar modal Indonesia ditengah ketidakpastian ekonomi global masih cukup baik dibandingkan bursa dunia.

“Kalau kita lihat kita diatas Malaysia, Filipina, dan lain-lain. Kita kalau di Asean kita lebih rendah dari Singapura,” ujarnya dalam konferensi pers di gedung BEI Jakarta, Kamis (29/12/2022).

Inarno mengungkapkan, tahun 2023 masih dapat tumbuh positif mengingat masih banyak perusahaan-perusahaan yang berminat untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal.

“Saya optimis 2023 cukup baik apalagi di pipeline kita juga masih banyak untuk yang Go publik kedepannya. Ada emisi yang besar akan masuk dan sudah masuk ke pipeline,” tuturnya. (*)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles