Tembaga Melimpah Di Akhir Masa Jabatan Jokowi

Jakarta – Indonesia diperkirakan akan “kebanjiran” katoda tembaga di penghujung masa jabatan Presiden RI Joko Widodo pada Oktober 2024 mendatang. Stok katoda tembaga bakal melimpah jumlahnya di Indonesia dan diperkirakan akan mencukupi kebutuhan dalam negeri.

Pasalnya, dua fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga baru di dalam negeri bakal beroperasi di 2024 mendatang. Kedua smelter tembaga baru tersebut yaitu smelter yang dioperasikan PT Freeport Indonesia di kawasan industri JIIPE, Gresik, Jawa Timur, dan smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara di Benete, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kedua smelter tembaga tersebut diperkirakan bisa menambah sekitar 800 ribu ton katoda tembaga, dari saat ini hanya sekitar 300 ribu ton per tahun.

Hal tersebut diungkapkan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas.

“Paling tidak ada dua smelter baru tembaga yaitu yang sedang dibangun PT Freeport Indonesia dan satu lagi oleh Amman Mineral. Dan ini apabila kami selesai dan mulai produksi katoda tembaga, mungkin ada tambahan sekitar 800 ribu ton katoda tembaga,” tuturnya, dikutip Selasa (27/12/2022).

Dengan adanya tambahan produksi katoda tembaga tersebut, maka katoda tembaga di dalam negeri pada 2024 diperkirakan akan semakin surplus. Dia menyebut, dengan produksi katoda tembaga yang ada saat ini sebesar 300 ribu ton, yang mampu diserap dalam negeri hanya separuhnya, yakni 150 ribu ton per tahun.

Berita Terkait:  Menperin Tak Tahu Rencana Impor Darurat KRL Bekas

Seperti diketahui, produksi katoda tembaga saat ini berasal dari smelter PT Smelting, yang dimiliki PT Freeport Indonesia bersama dengan Mitsubishi Materials Corporation (MMC), yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur.

“Sekarang ini sebenarnya sudah surplus, yang diproduksi oleh PT Smelting sekarang 300 ribu ton, dan itu separuhnya 150 ribu ton masih diekspor. Jadi konsumsi dalam negerinya memang 150 ribu ton,” ungkapnya.

Dengan jumlah produksi yang melimpah tersebut, menurutnya sudah mencukupi kebutuhan akan tembaga di dalam negeri.

“Bisa sekali mencukupi,” ujar Tony saat ditanya mengenai kecukupan konsumsi tembaga untuk Indonesia.

Terkait progres pembangunan smelter baru PTFI di JIIPE, Gresik, dia menyebut saat ini kemajuannya sudah mencapai 47,4%. Dan sampai akhir tahun ini menurutnya progres pembangunan diperkirakan bisa mencapai 50%.

Untuk diketahui, awal pembangunan smelter baru Freeport ini dilakukan pada Oktober 2021 lalu yang juga turut dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Smelter dengan nilai investasi US$ 3 miliar atau sekitar Rp 45 triliun ini disebutkan akan menjadi smelter single line terbesar di dunia.

Berita Terkait:  Rupiah Menguat Setelah Dolar AS Lesu Pekan Ini

Smelter ini akan mengolah 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun menjadi produk 600 ribu ton katoda tembaga per tahun.

Saat ini PTFI juga telah memiliki satu smelter yang telah beroperasi – juga berlokasi di Gresik. Perusahaan bekerja sama dengan Mitsubishi membentuk PT Smelting. PT Smelting yang telah dibangun sejak 1996 lalu memproduksikan 300 ribu ton katoda tembaga dari hasil olahan sekitar 1 juta ton konsentrat tembaga per tahunnya.

Perlu diketahui, PT Smelting kini juga dalam proses ekspansi atau peningkatan kapasitas. Adapun peningkatan kapasitas di smelter yang telah ada tersebut direncanakan akan naik 30% atau sekitar 300 ribu ton pengolahan konsentrat per tahun. Ini artinya, produksi katoda tembaga akan semakin besar lagi.

Sementara itu, PT Amman Mineral Nusa Tenggara juga menargetkan smelter barunya bisa beroperasi pada akhir 2024 mendatang.

Direktur Utama Amman Mineral Nusa Tenggara, Rahmat Makkasau mengatakan, sebelum berubah menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Operasi Produksi (OP) yakni masih dalam bentuk Kontrak Karya (KK) dengan nama PT Newmont Nusa Tenggara, perusahaan tidak berniat untuk membangun smelter.

Berita Terkait:  Kebangkrutan Massal Hingga Resesi Hiasi Prediksi Ekonomi 2023

Adapun rencana pembangunan smelter baru terealisasi ketika Newmont diambil alih oleh PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan berubah nama menjadi Amman Mineral Nusa Tenggara.

“Pada saat ini ekspor konsentrat tembaga itu lah salah satu alasan kenapa kita memutuskan untuk membangun smelter untuk support pemerintah memberi nilai tambah. Harapan di akhir 2024 nanti kita sudah operasikan smelter dan mulai produksi chopper cathode,” kata dia dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII, Kamis (10/11/2022).

Direktur Utama MedcoEnergi Hilmi Panigoro sempat mengatakan bahwa proses pembangunan smelter tembaga di NTB hingga kini masih terus berlangsung. Adapun smelter ini nantinya bakal memiliki kapasitas input atau pengolahan konsentrat tembaga sebesar 900.000 ton per tahun.

“Alhamdulillah sedang dibangun, tanah sudah beres, pelabuhan sudah ada, EPC sudah, nilai US$ 1,5 miliar. InsyaAllah akhir 2024 awal 2025 kita sudah punya smelter,” pungkasnya, Selasa (7/6/2022). (*)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles