Di Webinar GMPI, Pakar Hukum dan Pelaku UMKM Beri Masukan untuk Penyempurnaan UU Ciptaker

JAKARTA – Pimpinan Pusat Generasi Muda Pembangunan Indonesia (PP GMPI) menggelar Webinar Series 5 tentang “Nasib Undang-undang Cipta Kerja Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi”, Kamis (30/12/2021). Ketua Umum PP GMPI, Achmad Baidowi mengatakan, webinar ini memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyempurnaan UU Ciptaker.

“Hadirnya pemateri kali ini memberikan pengayaan dan tambahan pengetahuan terhadap penyempurnaan revisi UU Cipta Kerja. Kegiatan ini memberikan update informasi dan tambahan pengetahuan kepada kita semua,” ujar pria yang akrab disapa Awiek ini.

Sebelumnya, MK telah memutuskan bahwa UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja tidak konstitusional. DPR RI dan pemerintah diberi waktu dua tahun untuk memperbaikinya, agar dinilai konstitusional. Namun, hakim MK juga memutuskan bahwa UU Ciptaker tetap berlaku.

Menanggapi itu, anggota Panja UU Ciptaker, Syamsurizal menerima putusan MK tersebut. Pihaknya juga mengaku sangat terbuka dengan masukan dari masyarakat terhadap undang-undang omnibus law ini.

“Pasal-pasal yang diatur dalam UU Cipta Kerja untuk penciptaan kemudahan iklim berusaha dan investasi di dalam negeri. Hal ini berarti tidak hanya menguntungkan investor untuk berinvestasi di Indonesia, melainkan juga menguntungkan UMKM,” jelas anggota dewan dari PPP ini.

Berita Terkait:  Aktivis Anti Korupsi Ingin Kasus Ketum PKB Muhaimin Kembali Diusut

Penyempurnaan UU Ciptaker, kata Syamsurizal, akan dimasukkan dalam program legislasi nasional (Prolegnas) tahun 2022. Setelah masa reses anggota DPR RI berakhir, pihaknya akan segera membahasnya.

Pakar hukum dari Universitas Jayabaya, Hendradinata memberikan tinjauan akademis pada penyusunan UU Ciptaker. Yang kurang dalam penyusunan omnibus law ini adalah dari aspek sosiologis.

“Poin yang sosiologis belum terekspos dengan baik. Karena terjadi keberatan dari masyarakat, yang ujung-ujungnya mereka melakukan judicial review ke MK. Penyusunan tidak banyak melibatkan keterlibatan masyarakat,” terang Wakil Rektor Universitas Jayabaya, Jakarta ini.

Sementara itu, pelaku UMKM Shandy Aditya mengaku tidak heran jika terjadi demonstrasi terhadap undang-undang Ciptaker. Pasalnya, masyarakat lebih banyak mendapatkan informasi sepotong-potong dari omnibus law ini.

“Masyarakat lebih banyak dapat informasi tentang UU Cipta Kerja dari katanya-katanya, daripada mengetahui esensi dan benefitnya. Salah satunya adanya izin tunggal ini sangat membantu,” jelas Shandy.

Akademisi Universitas Negeri Jakarta ini menambahkan, izin tunggal berusaha sebagaimana dalam pasal 7 UU Ciptaker ini memudahkan dalam berusaha. Saat perizinan ini dimudahkan, akan lahir banyak usaha rintisan dan semakin membuka lapangan pekerjaan.

Berita Terkait:  Mantan Pejabat Subang, Nilai Harta Yang Fantastis Akan Dilelang KPK

“Sosialisasi yang lebih detail untuk benefit lainnya dari UU Cipta Kerja. Saya yakin ini akan membantu Indonesia punya enterpreneur maindset,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles