Pemkab Bangkalan Optimistis Tekan Angka Stunting

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan terus berusaha menurunkan angka stunting pada anak. Jika dibandingkan dengan kasus di tahun 2020 lalu, stunting masih berada di angka 3.240 penderita. Sedangkan di tahun 2021 ini, stunting hanya mencapai 2.314 penderita.

Hal ini diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Aris Budianto. Menurutnya, salah satu penyebab stunting pada anak tidak terlepas dari terjadinya pernikahan dini. Bahkan hingga saat ini, kawin di usia dini belum bisa ditekan semaksimal mungkin.

Sedangkan instansinya tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah terjadinya pernikahan di bawah umur tersebut. Selain itu, kasus stunting bukan hanya menjadi kewenangan instansinya. Melainkan semua sektor dari tingkat kecamatan hingga desa.

“Kami hanya bisa sedikit membantu di unsur biologisnya saja. Yakni hanya bisa mengintervensi 30 persen, sedangkan yang menentukan kewenangannya berada di luar instansi kami. Jadi, kasus ini tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi. Karena penyebabnya, faktor sosial dan agama. Makanya perlu ada keterlibatan pihak terkait,” ujarnya, Sabtu (6/11/2021).

Berita Terkait:  Operasional KRL Jogja-Solo Menyesuaikan Perpanjangan PPKM

Sedangkan instansinya tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah terjadinya pernikahan di bawah umur tersebut. Selain itu, kasus stunting bukan hanya menjadi kewenangan instansinya. Melainkan semua sektor dari tingkat kecamatan hingga desa.

“Kami hanya bisa sedikit membantu di unsur biologisnya saja. Yakni hanya bisa mengintervensi 30 persen, sedangkan yang menentukan kewenangannya berada di luar instansi kami. Jadi, kasus ini tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi. Karena penyebabnya, faktor sosial dan agama. Makanya perlu ada keterlibatan pihak terkait,” ujarnya.

Pihaknya memaparkan beberapa langkah penanganan stunting yang menjadi kewenangan instansinya. Masing-masing, ante natal care (ANC) setiap periode kehamilan, minimal ibu hamil (bumil) berkunjung ke fasilitas kesehatan sebanyak 4 kali. Selanjutnya, pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi bumil dan remaja putri dan pemberian vitamin A. Setelah melahirkan balita, perlu adanya pemantauan pertumbuhan melalui posyandu per bulan.

“Lalu promosi dan konseling tentang makanan pendamping air susu ibu (MP ASI) dan pemberian makanan bayi dan anak (PMBA). Ini semua memang yang bisa dilakukan oleh instansi kami. Tapi diluar itu, salah satu penyebab terjadinya stunting akibat pernikahan dini,” jelasnya.(*)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles