JAKARTA – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Komite Pergerakkan Mahasiswa Indonesia (KOMPAS. Ind) melakukan aksi unjukrasa di Gedung Merah Putih, KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (15/10/2021).

Dalam aksi demontrasi tersebut mereka meminta KPK untuk mengusut dan memeriksa kasus dugaan penyuapan yang dilakukan oleh Kontraktor terkemuka di Provinsi Sulawesi Selatan, Ferry Tanriady yang telah memberikan sejumlah uang sebesar Rp 2,2 Miliar untuk operasional Gubernur NonAktif Nurdin Abdullah yang saat ini telah ditangkap oleh KPK akibat terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada 27 Februari 2021 yang lalu.

Namun sayangnya ujar Koordinator Lapangan, Kompas.Ind, Andilas dalam orasinya, Ferry Tanriady sebagai pelaku utama penyuapan gubernur nonaktif Provinsi Sulawesi Selatan tersebut, hingga saat ini Ferry Tanriady masih belum usut dan ditangkap oleh KPK.

Padahal lanjut dia, Ferry Tanriady telah mengakui beberapa kali dalam fakta persidangan Tipikor, bahwa benar dirinya telah melakukan penyuapan yang ia berikan melalui ajudan Nurdin Abdullah.

“Tapi kenapa sampai saat ini Ferry belum ditangkap oleh KPK. Kenapa?,” kata Adilas dalam orasinya di depan gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (15/10/2021).

Berita Terkait:  Jaksa Penuntut Umum Persipakan Saksi yang Memberatkan Ratna Serumpaet

Demikian juga masa aksi meminta untuk bertemu pimpinan KPK, namun sayangnya para pimpinan KPK sedang tidak berada di tempat. Sehingga Lembaga Anti Rasuah tersebut hanya mengirim salah seorang staf, namun tidak ketahui pasti apa posisi jabatannya.

“Kami ingin menemui pimpinan KPK untuk menegaskan kepada pimpinan KPK khususnya bapak Firli Bahuri untuk segera mengembangkan, mengusut, memanggil dan memeriksa Fery Tanriady atas dugaan suap dan gratifikasi kepada gubernur Sulsel nonaktif Nurdin Abdullah,” ungkap Korlap yang mengenakan peci putih dan baju koko ini.

Selanjutnya puluhan mahasiswa yang terlihat menggunakan baju koko dan peci putih ini terlihat memberikan sepucuk berkas yang mereka sebut sebuah bentuk laporan. “Yang kami serahkan itu dalam bentuk laporan,” tegasnya lagi.

Berdasarkan pantauan awak media, masa aksi juga membawa keranda mayat berbalut kain putih, menurut Adilas hal itu dilakukan pihaknya untuk mengingatkan bahwa matinya penegakkan hukum di Indonesia.

“Maksudnya kami bawa keranda mayat itu bahwa tanda matinya penegak hukum. Keranda tersebut sebagai buntut dari belum diperiksanya dan dipanggil Ferry Tanriady oleh KPK RI,” tutup pemuda dengan logat dari Indonesia Timur Ini.

Berita Terkait:  Tanggapi Anies, Ketua DPRD DKI: Bohong Tak Ada Keuntungan dari TIM

Selain itu pihaknya juga mendorong dan meminta KPK untuk lebih professional dalam mengusut dan mengembangkan kasus suap dan gratifikasi yang melibatkan gubenur nonaktif Nurdin Abdullah.(*)

Tinggalkan Komentar