JAKARTA – Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh perkumpulan Sekolah Politik mengankat tema Elaborasi Kebhinekaan dalam Bingkai Pancasila.

Hadir sebagi pembicara Arsul Sani (Wakil Ketua MPR RI), Lukman Hakiem penulis sejarah pergerakan, Imam Suhardjo Analis Komunikasi yang juga senior di ormas Parmusi dan Anwar Sanusi akademisi yang juga senior ormas Perti.

Sementara yang menjadi pembahas dalam kegiatan tersebut Zainut Tauhid Sa’adi (Wakil Menteri Agama RI), Soleh Amin (Komisaris BUMN), Abdullah Syarwani (Mantan Dubes RI untk Lebanon 2003-2007), Ubaidillah Murad (Mantan Legislator), dan Irene (Pimpinan Perempuan Perti). Serta para mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Jakarta.

Acara yang diselenggarakan di Hotel Sofyan Tebet pada 7 Oktober 2021 ini diawali sambutan Arsul Sani, Pimpinan MPR dari Fraksi PPP menyampaikan bahwa sebagai ideologi terbuka, Pancasila membuka perspektif yang tidak tunggal.

“Pancasila tidak saja kaya nilai-nilai, tapi semakin subur dan bertambah kuat apabila setiap sila dapat diterjemahkan sehingga diamalkan dalam berbangsa dan bernegara,” kata Arsul.

Berita Terkait:  Presiden Jokowi Lantik Enam Menteri dan Lima Wamen

Ia juga menyebutkan, Pancasila bisa dilihat sebagai rumusan formal kelima sila. Juga bisa dilihat kedudukannya sebagai dasar negara, idiologi bernegara dan filosofi kehidupan berbangsa.

“Di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk prinsip-prinsip yang terkandung di dalam setiap sila tetap aktual dan relevan dengan perkembangan zaman dan realitas dan kultur masyarakat yang dinamis. Karenanya, Pancasila kita tempatkan sebagai ideologi bernegara dan berbangsa yang terbuka dan dinamis,” jelas Arsul Sani.

Sementara itu, Lukman Hakiem yang menjadi pemerhati dalam FGD itu menyatakan sejarah menyampaikan bahwa Pancasila dan Kebhinekaan merupakan satu kesatuan yang dibangun. Lambang Garuda dan isinya hasil kontribusi dari berbagai tokoh. Kelima lambang dalam Pancasila merupakan sumbangsih yang tidak bisa dilepaskan dari para tokoh sebelum kemerdekaan.

“Secara semiotika struktur lambang negara terdiri dari tiga konsep yaitu Elang Rajawali, Dasar Negara Pancasila dalam perisai Pancasila, dan jati diri bangsa pada seloka “Bhinneka Tunggal Ika”,” ungkapnya.

“Perisai Pancasila merupakan perpaduan ide dari usulan anggota Panitia lambang negara. Simbol sila kesatu itu ide dari Moh. Natsir. Simbol sila kedua dan sketsa gambar perisai juga garis khaltulistiwa adalah usulan Sultan Hamid II, dan simbol sila ketiga ide Poerbatjaraka, simbol sila keempat ide Muh. Yamin, simbol sila kelima ide Ki Hadjar Dewantara,” sambutannya.

Berita Terkait:  PPP Gelar Muktamar IX Berdasarkan Zonasi

Kepala Sekolah Politik, Endin Soefihara dalam ulasan akhir FGD menyampaikan bahwa Pancasila dalam perjalanannya mengalami berbagai deviasi makna pada setiap pemerintahan berjalan.

“Yang terpenting Pancasila tetap harus dijaga menjadi falsafah bangsa Indonesia. Bahkan Pancasila layak ditawarkan sebagai tata nilai dunia,” tukas Endin.(*)

Tinggalkan Komentar