Bahasa Arab Disebut Ciri Teroris, Begini Kata Ketum ITHLA

MAKASSAR – Ketua Umum Ittihadu Thalabah al-Lugah al-‘Arabiyyah bi Indonesia (ITHLA) atau Persatuan Mahasiswa Bahasa Arab se-Indonesia, Alfikri Rausen Aditya menanggapi isu terkait bahasa Arab yang dianggap sebagai ciri-ciri radikalisme dan terorisme. Statement tersebut dilontarkan oleh Susaningtyas Nefo Kertopati seorang pengamat intelijen, Susaningtyas mengatakan hal tersebut saat menghadiri program Crosscheck #FromHome yang diupload melalui channel Medcom id dengan judul ‘Taliban Bermuka Dua ke Indonesia?’ pada Minggu (5/9/2021).

Dalam video tersebut Susaningtyas menganggap bahwa saat ini Indonesia perlu mewaspadai gerakan dari kelompok Taliban . “Di negara kita ini sudah banyak sekali lembaga pendidikan yang kiblatnya itu sudah Talibanisme ya,” ujar Susan.

Alfikri Rausen Aditya, Ketua Umum ITHLA Indonesia terpantik untuk berargumen atas pernyataan Susaningtyas Nefo Kertopati bahasa arab sebagai ciri radikalis dan teroris.

“Indonesia yang memiliki dasar negara pancasila juga menjadi asas pergerakan salah satu organisasi mahasiswa bahasa Arab di Indonesia yaitu ITHLA (persatuan mahasiswa bahasa arab) se-Indonesia. Menanggapi isu yang sedang beredar, ITHLA Indonesia yang bergerak untuk mengembangkan bahasa Arab dan menyebarkan semangat nasionalis mahasiswa jurusan bahasa arab di Indonesia, sangat menyayangkan pernyataan yang mengkategorikan bahasa Arab sebagai bentuk radikalisme.” Ujar Ketua Umum ITHLA Indonesia.

Berita Terkait:  Warga Sampang Geger, Mayat Tanpa Identitas Tersangkut Di Pantai Lon Malang

Adapun peristiwa konflik yang terjadi pada kelompok Taliban di Afghanistan maupun berbagai wilayah Timur Tengah lainnya tidak bisa menjadi patokan bahwa menyebarnya bahasa Arab di Indonesia menjadi salah satu faktor merebaknya kasus terorisme dan radikalisme pada saat ini.

“Bagaimana saya tak khawatir, anak muda kita sudah tak mau lagi hormat pada bendera Indonesia, tak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya. berbahasa Arab,” tutur Susaningtyas.

“Kalau cara berpikirnya seperti ini dengan mengkambing hitamkan rasa khawatir terhadap tindakan radikalisme dan menyerang bahasa arab itu sendiri, sebagai ummat Islam, yasudah membaca Al-qur’an gak usah baca konteks arabnya. sholat pada saat takbir gak usah bilang Allahu Akbar langsung bilang aja, Allah Maha Besar,” tuturnya.

“Sedangkan Bahasa Arab itu sendiri sudah menjadi program studi pilihan di banyak perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia. kalau mau menguarkan statement itu mesti perlu hati-hati, dikarenakan kata berbahasa arab itu sub poinnya umum,” tambahnya

ITHLA sebagai organisasi persatuan mahasiswa bahasa Arab selalu menjunjung tinggi nilai-nilai nasionalisme dengan berasaskan ideologi Pancasila dan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam berorganisasi dan kami mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk mempelajari serta memahami bahasa Arab tidak hanya dalam satu aspek saja. Namun dalam segala aspek kehidupan layaknya bahasa-bahasa lainnya dan tidak menuding bahasa Arab sebagai bahasa yang memicu radikalisme dan terorisme di Indonesia. (*)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles