Ditantang Ikut Mati Jika Garuda Kolap, Dirut Minta Wartawan Tanya Nusron

JAKARTA – Rapat Dengat Pendapat (RDP) antara Direksi PT Garuda Indonesia Tbk dengan Komisi VI DPR pada Senin (21/6/2021) kemarin berlangsung panas. Bahkan salah satu anggota Komisi VI, Nusron Wahid meminta para direksi ikut mati jika perusahaan itu mati.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengaku, video debat panas yang beredar di berbagai media sesuai dengan apa yang terjadi di lokasi. Terkait pernyataan Nusron yang menyinggung antara hidup dan mati Garuda dikaitkan dengan jajaran direksi, Irfan mengatakan, perlu ada kejelasan maksud ungkapan tersebut.

“Apa yang tersurat dan tersirat sepanjang rapat kemarin ya begitulah adanya. Itu kan statement dari beliau, tolong tanyakan ke beliau. Saya kan tidak bisa bilang saya tidak mau mati, saya mau mati, gitu kan. Kan statement dari beliau dan mungkin perlu di cek ke beliau apa maksudnya, silahkan saja,” kata Irfan pada sebuah media Jakarta, Selasa (22/6/2021).

Dia mengatakan, dalam rapat tersebut ia tak mewakili sebagai personal melainkan membawa nama perusahaan. “Kalau dari kami sih apa yang ada di situ rekaman di youtube seperti itu aja. Kan jelas suara saya, sikap saya. Memang soal menanggapi tanya jawab ini, saya kan Dirut, jadi saya tidak mewakili diri saya sendiri. Jadi saya harus mewakili institusi dan juga saya harus mewakili segala macam kekurangan, kelebihan, kebanggaan, dan segala macam,” ujarnya.

Berita Terkait:  Relawan LARIS Gelar Istighosah Untuk Kemenangan Fattah Jasin-Ali Fikri di Pilkada Sumenep

Meski rapat berlangsung panas, Irfan menuturkan, bahwa terjadi dialog yang pada ujungnya memiliki tujuan yang sama yaitu penyelamatan Garuda. Dia pun menanggapi dengan positif segala bentuk ungkapan keras anggota dewan.

“Tapi memang kan di DPR tektok-tektok begitu. Tapi cukup bagus dan menarik karena kemarin terjadi dialog dan saya sih sebenarnya lihatnya positif saja. Dari seluruh rangkaian pertanyaan ini kan menunjukkan bahwa para anggota komisi VI itu sangat mencintai Garuda dan sangat berharap bahwa Garuda bisa melewati ini dan anggota komisi VI ini sih sebenarnya menyampaikan kira-kira butuh dukungan apa dari mereka untuk penyelamatan Garuda,” tuturnya.

Salah satu hasil dialog yang dimaksud Irfan, ialah saat pengusulan dukungan dalam proposal pengajuan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

“Waktu saya menyampaikan keinginan untuk kami mohon didukung terbanglah bersama Garuda, kan langsung jadi salah satu keputusan rapat. Jadi saya selalu melihat positif di banyak forum yang saya hadiri, saya menganggap komentar walaupun ada yang sinis, ada yang keras, saya menganggap itu representasi keinginan mereka untuk mendukung Garuda supaya bisa melewati bisa melewati situasi ini. Komentar saya selalu positif sih melihat itu,” kata Irfan.

Berita Terkait:  Sukses terapkan DBON, Menpora Bangga Atas Capaian Cabor Wushu dan Kickboxing

Seperti diketahui, debat panas sempat mewarnai rapat antara PT Garuda Indonesia Tbk dengan Komisi VI DPR. Debat panas itu terjadi lantaran kedua belah pihak memiliki perbedaan pilihan dari 4 opsi penyelamatan Garuda Indonesia.

Nusron Wahid memilih opsi 1 yakni pemerintah terus menyokong penyelamatan Garuda dengan memberikan suntikan ekuitas atau pinjaman. Sementara jajaran direksi Garuda lebih condong ke opsi 2 yakni restrukturisasi utang Garuda yang sudah jatuh tempo sekitar Rp 70 triliun dari total utang Rp 140 triliun dengan cara mengajukan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles