Disdikpora Kota Jogja Lakukan Langkah Pencegahan Siswa Putus Sekolah Saat Pandemi

Jogja-Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja tidak mendapati adanya laporan soal siswa yang mengundurkan diri atau putus sekolah akibat tidak sanggup mengikuti pembelajaran daring di masa pandemi.

Namun demikian, dinas mengakui sebagian besar orang tua dan murid mengaku cukup kesulitan mengikuti pembelajaran daring.

Sekretaris Disdikpora Kota Jogja, Dedi Budiono menjelaskan, berdasarkan data yang ada di Bagian Perencanaan, Evaluasi, dan Pelaporan (PEP) tidak ada sekolah yang melapor tentang murid yang mengundurkan diri selama pandemi ini.

“Tapi kalau laporan orang tua berat mendampingi ya kami paham. Itu kan mereka harus mendampingi. Tapi kalau sampai putus sekolah dan undur diri tidak ada. Justru kami mau mencegah itu dengan berbagai cara,” kata Dedi, Sabtu (5/6/2021).

Dia mengungkapkan, sejumlah cara dilakukan pihaknya untuk mengatasi persoalan yang timbul saat pembelajaran daring dilakukan diantaranya dengan mengemas pembelajaran lebih menarik dan berorientasi pada proses, simulasi pembelajaran tatap muka (PTM), dan lain sebagainya. Hal itu dilakukan terutama bertujuan untuk mengurangi efek bosan, menumbuhkan semangat, interaksi sosial dengan teman dan guru serta penguatan karakter pada siswa.

Berita Terkait:  Velocity Criterium, Kemenpora Harapkan Ajang Ini Kembangkan Industri Olahraga

Selain itu, Disdikpora juga melakukan peningkatan kreativitas guru melalui pembinaan oleh pengawas, sehingga guru-guru bisa lebih kreatif dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh atau daring. Menurunkan beban kurikulum juga diupayakan sehingga tidak memberatkan anak. Sekolah juga diminta untuk menyusun modul sebagai pembimbing anak belajar.

“Beban kurikulum juga sudah lama kami turunkan. Kalau SMP itu hanya 58-60 persen saja. Jadi beban kurikulum saat daring itu beda dengan yang PTM,” ujarnya.

Dedi menerangkan, di awal pandemi Covid-19 pihaknya bersama pengawasan sekolah dan stakeholder terkait juga telah rembugan dan membahas beberapa hal termasuk kondisi pembelajaran di masa pandemi. Pihaknya memutuskan bahwa di masa pandemi hanya materi pelajaran yang esensial saja yang diberikan kepada murid, sementara pelajaran yang kurang esensial tidak diberikan.

“Kalau dipaksa bebannya 100 persen ya bisa jadi murid bakal stres,” katanya.

Murid putus sekolah atau mengundurkan diri justru ditemui saat sebelum pandemi Covid-19 berlangsung. Pada 2019 ada 8 murid SMP yang diketahui undur diri karena pindah sekolah di wilayah setempat. Faktornya disebabkan oleh pelbagai hal, ada yang pindah sekolah, terkandung kasus hukum dan lain sebagainya.

Berita Terkait:  Sidang Parlemen di PBB, Puan Tegaskan Akses Air Bersih Adalah HAM Mendasar

Hal senada juga diungkapkan oleh SDN Lempuyangwangi, Kota Jogja. Pihak sekolah tidak menemui siswa yang mengundurkan diri akibat pembelajaran daring di masa pandemi.

“Di SD Lempuyangwangi tidak ada yang sampai mengundurkan diri,” kata Kepala Sekolah SDN Lempuyangwangi, Esti Kartini.

Dia mengklaim bahwa sekolah tetap memberikan bimbingan konseling (BK) kepada para murid selama pembelajaran daring dilakukan. Hal ini bertujuan untuk memastikan agar efektivitas pembelajaran daring bisa terlaksana dan tidak menganggu kondisi murid selama pandemi Covid-19.

“Walau masa pandemi dan anak itu belajar dari rumah (BDR) tetap ada pelaksanaan BK dari guru kelas masing-masing. Guru akan memantau melalui WAG agar pelaksanaannya optimal,” katanya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles