Pertemuan Megawati dan Nadiem, Begini Penjelasan Hasto

JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Nadiem Makarim menemui Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri, Selasa (20/4), di kediaman Mega di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyatakan pertemuan Mendikbud Nadiem Makarim dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tidak membahas reshuffle atau perombakan kabinet.

Menurutnya, PDIP selalu memegang prinsip bahwa perombakan kabinet hanya terjadi atas keputusan Presiden.

Menurut Hasto, Megawati dikenal sebagai sosok negarawan dengan pengalaman yang luas. Usia 14 tahun, Megawati sudah menjadi delegasi termuda GNB di Beograd. Dan sejak kecil, beliau diajak Bung Karno menerima tokoh-tokoh mancanegara dan tokoh kebangsaan, tokoh agama dan tokoh pergerakan, juga tokoh-tokoh perjuangan.

Dengan pengalaman yang sangat luas, terlebih konsistensi perjuangan Bu Mega pada jalan Pancasila, maka wajar jika secara periodik Ibu Mega berdialog dengan Presiden Jokowi dan jajaran pemerintahannya. Baik dari kalangan menteri, badan-badan negara maupun pimpinan Partai dan pimpinan lembaga-lembaga tinggi negara.

Berita Terkait:  PDIP Ketuk Keras Aksi Pembunuhan Satu Keluarga di Sulawesi Tengah

“Pertemuan dengan Pak Nadiem sudah dilakukan beberapa kali, guna membahas politik pendidikan yang bertumpu pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Politik pendidikan untuk meletakkan landasan kebudayaan bagi kemajuan bangsanya melalui penguasaan iptek; politik pendidikan yang berakar pada sejarah perjuangan bangsa. Jadi dialog tsb memang perlu bagi kepentingan kemajuan dan peningkatan kualitas pendidikan nasional bangsa,” kata Hasto, kepada media, Jakarta, Rabu (21/4/2021).

Hasto juga mengatakan, yang dibahas selama dua jam yang berkaitan dengan politik pendidikan, pentingnya Pancasila, dan juga pendidikan budi pekerti serta kebudayaan.

“Bu Mega berulang kali menekankan pentingnya pendidikan karakter dan pendidikan yang menggelorakan rasa cinta pada tanah air tidak hanya melalui teori, namun juga praktek, guna memahami apa itu gotong royong, nasionalisme, dan pengenalan Indonesia yang begitu plural. Jadi bukan hanya aspek kognitif saja. Ibu Mega juga banyak menceritakan pengalamannya ketika oleh Bung Karno diminta belajar di Perguruan Cikini yang didirikan oleh para pejuang perempuan,” jelas Hasto.

Hasto juga menegaskan dalam pertemuan itu tidak membahas masalah reshuffle kabinet yang belakangan ramai diperbincangkan.

Berita Terkait:  Y-Publica Rilis Survei Simulasi Capres-Cawapres: Prabowo-Puan Unggul Tipis atas Ganjar-Airlangga

“Pertemuan tersebut tidak membahas hal itu. Karena persoalan pendidikan sebagai dasar kemajuan bangsa merupakan hal yang fundamental,” jelas Hasto.

Hasto juga menyatakan bahwa PDIP memandang kinerja Nadiem sejauh ini terutama dengan pendidikan yang memerdekakan dan berakar pada falsafah pemikiran Ki Hadjar Dewantara perlu mendapat dukungan.

Hasto juga menyatakan PDIP tidak melihat menteri sebagai individu.

“Apa yang dicanangkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim dengan pendidikan yang memerdekakan dan berakar pada falsafah pemikiran Ki Hadjar Dewantara perlu mendapat dukungan. Partai tidak melihat menteri sebagai individu. Partai melihat menteri sebagai pembantu presiden yang harus menjalankan kebijakan presiden yang berfokus pada upaya menjalankan konstitusi dan UU dengan selurus-lurusnya. Terlebih pendidikan juga harus mengedepankan objektivitas, rasionalitas, dan semangat juang untuk menguasai ilmu pengetahuan,” ungkapnya.

“Atas pemaparan Menteri Pendidikan bagaimana pendidikan juga membumikan Pancasila sangat menarik dan penuh dengan inovasi dan terobosan,” tukas Hasto.(*)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles