Kyai Muda NU Sebut Kata Pelarangan Dinilai Lebih Pas untuk RUU Minol

Jakarta – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Wahdah Lasem, Rembang, Kiyai Ahfas Hamid Baidlowi atau yang lebih dikenal dengan Gus Ahfas Lasem menegaskan Indonesia memerlukan RUU Larangan Minuman Beralkohol (Minol). Pelarangan Minol dan Miras itu bahkan sudah mendesak untuk diberlakukan.

“Bahaya daripada minuman beralkohol atau minuman keras bukan hanya berkaitan dengan tindak kejahatan dan kecelakaan saja. Tetapi selain itu, negara juga mempunyai kewajiban untuk mewujudkan perlindungan kesehehatan bagi warga negaranya, karena Miras itu tidak sehat,” jelasnya.

Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Rembang ini menambahkan, sebagai masyarakat, dirinya menginginkan dalam pembahasan “RUU Larangan Minol” itu tetap menggunakan kata larangan. Menurutnya, kata larangan sudah pas untuk RUU Minol, karena dengan kata larangan aparat pemerintah bisa lebih tegas dalam menindak penggunaan miras dan melindungi masyarakat dari efek negatif yang disebabkannya.

“Kita lihat misalnya, banyak terjadi perampokan, pelecehan seksual bahkan pemerkosaan yang itu ditimbulkan dari mengkonsumsi miras,” katanya.

Selanjutnya, kata ia, RUU Larangan Minol sudah sejalan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, disebutkan pada sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Berita Terkait:  Masyarakat Yang Tidak Mau Disuntik Vaksin Bisa Kena Sanksi Pidana

“Kita tahu juga bahwa semua agama yang ada di Indonesia (6 agama) jelas-jelas melarang setiap umatnya mabuk-mabukan yang kemudian menyebabkan mereka kehilangan akal,” katanya.

Demikian pula dalam Agama Islam, sudah sangat jelas bahwa agama Islam melarang umatnya mengkonsumsi miras.

“Rasulullah SAW bersabda; “Ijtanibuu Alkhomr, Fainnaha ummul khobaais” yang artinya jauhilah khomer (miras) karena itu merupakan ibu dari kejahatan,” tandasnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles