Perlu Grand Strategy dalam Merger Pelindo

Jakarta – Kementerian BUMN berencana menggabungkan atau merger PT Pelindo I, PT Pelindo II, PT Pelindo III dan PT Pelindo IV. Terkait dengan ini, anggota Komisi VI DPR RI Achmad Baidowi melihat perlu dibuatkan grand strategy agar tujuan dari merger empat perusahaan pelabuhan plat merah itu tercapai.

“Salah satu yang ingin diketahui dari merger yang direncanakan adalah bagaimana grand strategy-nya. Sehingga integrasi BUMN pelabuhan betul-betul mencapai tujuannya, yaitu peningkatan efisiensi logistik nasional,” ujar Achmad Baidowi dalam seminar bertajuk “Urgensi Merger Pelindo dalam Membangkitkan Perekonomian Nasional” di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (31/3/2021).

Menurut Awiek, biaya logistik di Indonesia cukup mahal, mencapai 23,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Besarnya biaya logistik ini sangat berpengaruh pada indeks kemudahan berusaha yang selama ini menjadi perhatian calon investor untuk berinvestasi di sebuah negara.

“Ketika sudah dimerger, siapa nanti yang ditunjuk menjadi pengelolanya. Kementerian BUMN tentu harus melihat latar belakang dan kompetensi dalam menunjuk pimpinannya nanti,” tambah Sekretaris Fraksi PPP DPR RI ini.

Berita Terkait:  Industrialisasi Era Jokowi Dianggap Tidak Berhasil, Kok Bisa?

Direktur Utama PT Pelindo II, Arif Suhartono mengatakan bahwa peran pelabuhan terhadap biaya logistik terbilang rendah. Pelabuhan hanya berkontribusi sekitar 1,4 persen.

“Yang besar di sini (kontribusinya terhadap biaya logistik) adalah inventory sama in-land transportation, sampai delapan koma sekian persen. Pelabuhan kalau dilihat mungkin kecil tapi kalau dianalisis 1,4 persen itu memberikan dampak ke yang dua tadi, inventory dan in-land transportation,” terangnya.

Meski begitu, lanjut Arif, kelancaran arus barang di pelabuhan sangat vital karena akan mempengaruhi rantai logistik lainnya seperti inventory dan transportasi darat atau in-land transportation. Jika aktivitas pelabuhan terganggu, maka pengaruhnya ke rantai logistik lain akan langsung terasa.

Peneliti Senior LIPI Enny Sri Hartati menegaskan bahwa dirinya sangat yakin integrasi Pelindo sangat mendukung jalannya ekosistem logistik nasional.

“Perlu ada satu dirigen, satu komando, dan itu kita perlu selesasikan payung hukumnya. Jadi siapa ketua kelasnya harus jelas,” tegasnya.

Sementara itu, Pengamat Kemaritiman Siswanto Rusdi menekankan pentingnya manajemen pengelolaan pelabuhan. Jika hal tersebut tidak diperbaiki, maka proses merger Pelindo tidak ada artinya.

Berita Terkait:  Kisah Pendiri Nike Hingga Jadi Raja Sepatu Dunia

“Jadi kalau tidak dibenahi, integrasi ini sama saja omong kosong. Saya usulkan agar operator pelabuhan hanya sebagai regulator, tapi dalam pengelolaan semuanya dilakukan oleh Pelindo,” jelas Siswanto.

“Jadi saya berharap lewat DPR, lewat Bung Awiek (Achmad Baidowi) ini bisa menentukan arsitektur atau grand strategy pelabuhan yang baik, salah satunya dengan merevisi UU Pelayaran,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles