Artidjo Alkostar dan Dana untuk LAPMI Sinergi

Hakim Agung Artidjo Alkostar

Oleh: Islahuddin

Pemimpin Usaha LAPMI Sinergi HMI Yogyakarta 2005

Nama Artidjo Alkostar sudah lama dikenal masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang mempunyai perhatian pada dunia hukum Tanah Air. Jauh sebelum menjadi Hakim Agung, Artidjo sudah malang melintang sebagai pengacara ‘rakyat’ yang mau membela kliennya dengan bayaran seikhlasannya. Ia jujur dalam beracara, tanpa kompromi, tanpa membicarakan uang, apalagi sogokan.

Selain sebagai pengacara dan kemudian hakim agung, Artidjo juga dikenal sebagai alumni HMI. HMI Yogyakarta. Maka sebagai kader HMI yang saat itu masih kuliah di Yogyakarta, saya pun mengenal namanya. Ada beberapa orang alumni HMI di Mahkamah Agung (MA), salah satunya adalah Artidjo yang kami kenal.

MA merupakan salah satu institusi tempat alumni HMI Yogyakarta berkarir ketika ada di Jakarta. Jumlahnya memang tidak banyak jika dibanding mereka yang ada di partai politik, namun tetap menjadi salah satu tempat kunjung yang hangat bagi kader HMI Jogya yang sedang ke Jakarta, setidaknya di awal dekade 2000-an, saat kami masih menjadi mahasiswa UIN Yogyakarta.

Ada banyak alasan untuk bertemu para senior saat di Jakarta. Selain silaturahmi, mendapatkan banyak cerita, juga menjadi tempat untuk mencari dana untuk kebutuhan organisasi. Saat masih aktif di LPM Sinergi HMI Yogyakarta (saat itu teman-tema lebih suka menyebut LPM Sinergi HMI dibanding Lapmi Sinergi Cabang Yogyakarta), kami beberapa kali ke Jakarta, yang salah satunya adalah untuk mencari dana penerbitan majalah dan biaya kontrakan kantor Sinergi. MA merupakah salah satu tempat untuk berkunjung dengan tujuan tersebut.

Ada beberapa alumni HMI Jogja yang berhasil ditemui di MA, salah satunya adalah Artidjo. Masing-masing alumni yang ditemui memberikan kesan tersendiri, namun terkesan yang paling diingat adalah saat bertemu Artidjo.

Saat itu kami pengurus Sinergi bertemu Artidjo di ruangannya. Banyak berkas di ruangan tersebut. Waktu luang Artidjo yang tidak banyak dimanfaatkan oleh Hakim Agung ini untuk bercerita dan memberikan semangat untuk terus berkarya. Kami pun bercerita tentang kegiatan yang digeluti di Yogyakarta, salah satunya tentu adalah menerbitkan Majalah Sinergi. Di akhir pertemuan, seperti biasanya, kami memberikan majalah sekaligus surat permohonan bantuan penerbitan. Namun Artidjo menolak untuk memberikan bantuan dana. Alasannya sederhana, ia tidak ingin ada uang yang keluar di dalam ruangannya. “Di ruangan ini tidak ada transaksi uang, apapun bentuknya, termasuk memberikan sumbangan,” begitu Artidjo berujar saat itu.

Bagi kami, tentu itu pengalaman yang berbeda dan pelajaran yang berharga. Artidjo tampaknya ingin menjaga ruangannya bebas dari rupiah, apapun bentuknya. Ia juga seperti mendidik para kader HMI, bahwa untuk bertemu para senior tidak hanya berujung dengan memberikan dana bantuan. Dan bagi kami itu pelajaran yang berharga. Namun bukan berarti para senior yang memberikan bantuan dana tidak memberikan pelajaran yang berharga juga.

Makin lama, seiring perjalanan waktu kami pun disuguhi dengan fenomena Artidjo yang luar biasa. Integritas, kejujuran, dan kesederhanaannya banyak menghiasi media. Sudah banyak orang atau tokoh yang menuliskan testimoni dan tulisan tentang sosok kurus yang hidup tanpa kompromi ini.

Selamat Jalan Kanda Artidjo Alkostar. Tempat terbaik menantimu di sisi-Nya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here