Sosialisasi Empat Pilar, Elly Rachmat Yasin Ajak Milenial Jadi Agen Toleransi

Jakarta – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Elly Rachmat Yasin mengajak generasi milenial untuk menjadi agen toleransi. Hal tersebut disampaikan Elly pada saat melakukan sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Desa Cikeas, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Senin (8/2/2021).

Sosialisasi yang melibatkan para mahasiswa ini disertai dengan games sebagai metode menarik untuk internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika). Dihadiri juga Kepala Desa Cikeas dan camat Sukaraja, Aden. Sosialisasi juga dikemas dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.

“Di tengah pandemi covid-19 saat ini banyak orang berkreasi, khususnya di media sosial. Tetapi, tidak sedikit kreasinya justru kontraproduktif sehingga membahayakan kebersamaan. Misalnya kreasi edit video, gambar maupun berita atau narasi tertentu yang diplintir sehingga menimbulkan hoax alias berita bohong,” jelas Elly dihadapan peserta sosialisasi.

Dikatakannya, ketika haox viral menjadi informasi yang massif di masyarakat, maka berita hoax seolah benar, padahal manipulatif bahkan berisi fitnah.

Berita Terkait:  2 Rekomendasi Gudeg di Jogja, Ingin Coba Yang Mana Dulu ?

“Padahal saat ini masyarakat menghadapi banyak kesulitan, oleh karena itu janganlah ditambahi banyak kebohongan,” tegasnya.

Sebagai generasi bangsa, kata Elly, para milenial penting untuk memperoleh pendidikan politik kebangsaan, harus bijaksana dalam bermasyarakat, bijaksana dalam bermedsos. Hoax, terorisme, dan adu domba merupakan bentuk-bentuk intoleransi yang menjadi musuh Pancasila.

Elly menambahkan, dengan sosialisasi Empat Pilar, generasi milenial diharapkan jadi garda depan untuk menangkal intoleransi di masyarakat. Gunakanlah kemampuan berkreasi dengan yang positif untuk masa depan bangsa.

“Kita masih ingat, ada kejadian anak SD yang memanjat tiang bendera karena bendera Merah Putih terlilit ujung tiang pada saat upacara bendera beberapa waktu lalu merupakan contoh inspiratif. Anak kecil yang keberaniannya luar biasa sebagaimana keberanian para pejuang bangsa yang heroik di masa penjajahan saat itu,” paparnya.

Kemudian, jelas Elly, beberapa waktu lalu ada berita heboh, ada siswi nonmuslim yang disuruh memakai jilbab di sekolahannya. Yang seperti ini juga dapat menimbulkan konflik. Karenanya, pada tanggal 3 Februari, keluarlah Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga Menteri yaitu Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Dalam Negeri. SKB tersebut sebagai upaya meningkatkan intoleransi di masyarakat. Yakni mengatur seragam sekolah dasar dan menengah agar tidak lagi ada paksaan mengenakan jilbab bagi siswi nonmuslim di daerah yang mayoritas muslim. Juga tidak diperbolehkan adanya larangan bagi siswi yang berjilbab di daerah yang mayoritas nonmuslim.

Berita Terkait:  Pelaporan Suharso Monoarfa ke KPK Disebut Fitnah

“Para milenal juga harus ikut memikul tanggung jawab persatuan bangsa ke depan. Karena itu, jadilah agen-agen toleransi di lingkungan masing-masing. Mari mengukir masa depan dengan kreatifitas, merawat kebersamaan dengan toleransi, dan merawat persatuan dengan pembangunan,” tandasnya. (*)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles