Anggota Komisi VI DPR RI Dukung UMKM Naik Kelas

Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI Elly Rachmat Yasin meminta kepada Dirut BRI sebagai penyalur BPUM agar verifikasi dan mekanisme pencairannya dilakukan secara transparan dan tepat sasaran.

“Memang dalam evaluasi terdapat beberapa hal yang perlu diperbaiki agar ke depannya semakin efektif dan lebih bermanfaat,” jelas Elly pada saat Kunjungan Spesifik Komisi VI DPR RI dengan Pejabat Eselon I Kementerian Koperasi dan UKM dan Direktur Utama PT. BRI (Persero) Tbk di Semarang Jawa Tengah, Kamis, (4/2/2021)

Tantangannya kata Elly, BRI harus memiliki strategi mendukung 12 juta penerima modal usaha dimaksud bisa “naik kelas”. Dari unbankable menjadi bankable.

“Saya mendorong BRI sungguh-sungguh membina pelaku usaha mikro penerima bantuan. Dari sekedar penerima BPUM yang besarnya Rp. 2,4 juta perorang menjadi penerima KUR mikro Rp. 10 juta dan seterusnya?,” papar Elly

PT. Bank Rakyat Indonesia (BRI) tahun lalu telah dipercaya pemerintah menyalurkan Bantuan Presiden Produktif Usaha Mikro (BPUM) sebesar Rp. 28,8 triliun.

BPUM tahun 2020 telah disalurkan kepada 12 juta pelaku usaha mikro. Yakni mereka yang terdapak covid-19 dan modal mandiri, belum bisa mengakses pinjaman bank (unbankable).

Berita Terkait:  Alasan Jokowi Usung Perry Warjiyo Jadi Calon Gubernur BI

Bantuan dimaksud sebagai stimulus untuk menggerakkan kembali usaha masyarakat. Agar usahanya bisa dilanjutkan sehingga roda perekonomian masyarakat terus berputar.

Bedanya, kalau BPUM itu dana hibah. Sedangkan KUR merupakan skema pinjaman sehingga harus dicicil pengembaliannya. Hanya saja, pinjaman bank plafonnya lebih besar dengan waku yang cukup lama. Lebih cocok untuk mengembangkan usaha.

“Saya menyayangkan jika penerima BPUM kembali menjadi pelaku usaha ultra mikro, yang unbakable. Itu Namanya “tidak naik kelas”. Yang kita harapkan melalui BPUM tahun 2020 dan yang akan dilanjutkan 2021 menjadi “batu loncatan” bagi UMKM untuk “naik kelas”. Dari ultra mikro menjadi usaha kecil yang layak dibiayai bank,” jelasnya.

Karenanya, diharapkan BRI membantu mereka agar bisa “naik kelas”. Dengan laba bersih Rp 18,65 triliun pada 2020, BRI masih tergolong cukup kuat diterpa pandemi. Masih kokoh menjalankan misi membina usaha mikro. Meskipun menyusut 45,65 persen dibanding periode yang sama tahun 2019, yakni Rp 34,37 triliun.

“Saya mendukung upaya BRI sebagai bank penyalur kredit UMKM terbesar di Indonesia. Dengan target 80% debiturnya adalah UMKM,” tandasnya. (*)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles