Perjuangan Melawan Covid 19 Belum di Garis Finis (bagian 1)

Sudah dua minggu sejak 15 Januari 2021 lalu saya sekeluarga telah dinyatakan negatif dari dari Corona Virus Disease 2019 (Covid 19), virus yang selama satu tahun telah menghantui dunia. Petugas Puskesmas Bintara Kota Bekasi yang rutin memberikan informasi dan obat beserta vitamin ke keluarga saya saat itu meminta agar sekeluarga tetap isolasi mandiri (Isoman) selama sekitar seminggu, karena kondisi masih lemah dan masih berpotensi tertular kembali. Perintah itu pun kami jalankan. Apalagi saya yang bergejala sedang sempat dirawat di RS Bella Bekasi.

Kondisi mulai berangsur-angsur baik. Lemas yang selama ini cukup berat mulai berkurang. Olahraga sebisanya dilakukan namun sangat terbatas.

Setelah masa Isoman selesai, saya coba keluar rumah. Dari sekedar hanya berjalan puluhan meter, kemudian bertambah. Selanjutnya mencoba untuk naik motor, dari sekedar hanya di lingkungan permukiman, lalu ke luar jalan raya untuk membeli lauk. Pada awalnya pusing saat berjalan masih terasa, begitu juga saat naik motor. Namun berangsur-angsur pusing itu berkurang dan kondisi tubuh semakin baik.

Saya mencoba mengukur diri, sejauh mana kemampuan dan daya tahan tubuh bisa diajak beraktivitas. Saya pun menyadari bahwa tidak mungkin melakukan kegiatan yang langsung berat atau melakukan perjalanan langsung jauh. Bagi saya, yang baru Isoman saat itu, tidak mungkin naik motor dari Bintara 13 ke pasar Kranji misalnya yang jaraknya hanya sekitar 2 km. Naik motor pertama kali hanya dilakukan ke depan gang, yang hanya sekitar 200 meter saja dan itupun saat itu masih pusing.

Berita Terkait:  Imbang, Menpora Berikan Timnas Semangat Usai Seri Lawan Thailand di Piala AFF U-19 2022

Setelah beberapa hari pusing berkurang dan badan sudah mulai tambah kuat, uji coba selanjutnya adalah naik GoCar ke daerah Jakarta Selatan. Rupanya, jalan yang berlubang dan kadang bergelombang di Jalan Kalimalang membuat kepala mulai pusing. Akhirnya setiba di lokasi, saya harus tiduran sejenak sambil minum dan makan yang banyak. Alhamdulillah pusing pun mulai hilang. Namun saya tak berani untuk kembali pulang ke Bintara, walaupun itu naik mobil Gocar. Perlu istirahat beberapa jam, dan kemudian kembali pulang.

Walaupun sempat pusing di perjalanan, saya tidak tetap mencoba kembali mengukur kemampuan tubuh. Setelah merasa badan merasa lebih baik dan kekuatan tubuh bertambah, serta pusing yang juga jauh berkurang, perjalanan melalui GoCar kembali di lakukan. Kali ini ke kantor DPP PPP. Alhamdulillah pusing karena naik mobil tidak lagi terasa. Namun saya menyadari tubuh saya belum sehat benar, sehingga hanya sekitar 3 jam kemudian saya kembali ke rumah.

Petualangan untuk mengukur kemampuan tubuh kembali dilakukan. Kali ini adalah dengan menggunakan KRL di siang menjelang sore, dimana penumpang dari arah Bekasi ke Jakarta sepi, sehingga mudah dapat tempat duduk. Lalu kembali ke Bintara melalui Stasiun Cikini ke Stasiun Cakung sekitar jam 19.00 WIB. Walaupun harus berdiri, penumpang KRL jauh lebih sedikit dibanding sebelum pandemi. Saya masih bisa senderan di dekat pintu, jadi tidak terlalu capek.

Berita Terkait:  Hadir Di Forum Ketua Parlemen MIKTA, Puan Sampaikan Pentingnya Akses Vaksin Covid-19 Untuk Seluruh Dunia

Sudah bisa naik KRL rute Cakung-Cikini pulang pergi, rute selanjutnya di dua hari berikutnya di perpanjang dengan nambah dua stasiun. Alhamdulillah juga baik. Semua perjalanan dalam rangka mencoba ketahanan tubuh ini tetap dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan. Selain masker, ada juga sanitizer yang selalu tersedia di kantong. Plus ada permen sebagai persiapan jika perut mual. Alhamdulillan setelah perjalanan pertama naik GoCar, mual itu sudah tidak terasa di perjalanan.

Setelah perjalanan dengan Gocar sudah dan KRL telah dilalui, selanjutnya memberanikan diri naik motor dari Bintara ke Ujung Menteng Cakung Jaktim yang menurut Google Map jaraknya 8,1 KM dengan waktu tempuh 21 menit. Saya yang berboncengan dengan anak sulung berkendara tidak terlalu cepat, sehingga jarak tempuhnya lebih lama, apalagi sempat mampir ke SPBU. Perjalanan lancar. Begitu juga saat kembali dari Ujung Menteng ke Bintara.Tidak lagi merasakan pusing. Alhamdulillah.

Walaupun semua terlihat berjalan baik, sebenarnya bukan berarti tubuh benar-benar baik-baik saja. Saya belum bisa beraktivitas penuh setiap hari, karena bisa menyebabkan lemas dan pusing. Berlari masih belum cukup berani, hanya jalan biasa atau sedikit menambah kecepatan.

Berita Terkait:  Kejari Bangkalan Endus Adanya Dugaan Kerugian Negara di PD Sumber Daya

Lalu bagaimana dengan batuk?

Banyak yang bilang bahwa batuk tidak akan mudah sembuh walaupun sudah negatif Covid 19. Hal itu juga yang saya rasakan. Pada awal negatif, frekuensi batuk masih sangat tinggi. Bahkan kadang juga masih susah tidur. Namun sedikit demi sedikit berkurang. Sekitar 10 hari pasca negatif, frekuensi batuh juga masih tinggi, walaupun kemudian tidak terlalu mengganggu tidur.

Lima hari terakhir, batuk jauh berkurang. Tidur sudah mudah nyenyak. Kini, batuk sudah tidak menganggu, walaupun batuk itu masih ada. Dan tampaknya saya tetap harus periksa batuk ini kembali mengingat sudah lebih 1,5 bulan sejak pertama kali mengalami gejala Covid 19 batuk itu ada. Perlu rontgen untuk memastikan kondisi paru-paru yang insyaAllah akan dilakukan besok atau lusa. InsyaAllah semua akan kembali normal pada waktunya.

Perjuangan melawan Covid ini belum berakhir, walaupun keadaan tampak sudah baik-baik saja. (bersambung)

Bintara, 31 Januari 2021

Islahuddin (Penyintas Covid 19)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles