Mengenang Reni Marlinawati

Reni Marlinawati. Foto: istimewa
Reni Marlinawati. Foto: istimewa

H. Achmad Baidowi, S.Sos., M.SI. (Sekretaris Fraksi PPP DPR RI)

Siang itu, Jum’at 7 Agustus 2020, sekitar pukul 14.35 WIB, saat bersiap menghadiri sosialisasi peningkatan mutu perguruan tinggi pesantren dan penyerahan bantuan mobil operasional ke Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) DUBA Pamekasan, tiba-tiba saya dikejutkan adanya panggilan telepon dari Alifia Nadhira Adha (putri sulung Reni Marlinawati – Mochammad Amin). Sempat berpikiran, paling telepon urusan kantor, maklum kakak Fia – begitu sapaan akrabnya – sudah beberapa bulan ini menjadi bagian dari staf pimpinan Fraksi PPP DPR. Begitu telpon diangkat, kakak Fia hanya berucap singkat. “Maaf pak, mau ngasih kabar bunda sudah nggak ada di RSCM.” Kabar itu sangat singkat dan menyesakkan.

Saya belum percaya dan belum yakin. Saya memastikannya via WA, “Ini yang nggak ada Bunda Reni?.” Dijawabnya, “Ya Bunda Reni meninggal pukul 14.15 WIB di RSCM.”

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun”. Saat itu juga, shock begitu mendengar kabar senior yang humble dan murah senyum itu telah meninggalkan kami selamanya.  

Begitu sudah mulai terkendali, segera saya infokan berita duka tersebut ke sejumlah grup WA dengan menyantumkan sumber kakak Fia. Sejenak kemudian telepon mulai masuk bergantian menanyakan kebenaran kabar tersebut. Tak sedikit yang bernada tinggi karena tak percaya dengan kabar itu, dan meminta tidak main-main dengan kabar duka. Bahkan Dubes RI di Maroko, Bang Hasrul Azwar pun tak ketinggalan menghubungi untuk tanya kepastian kabar duka tersebut. Semua terdiam, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

*

Seminggu sebelum kabar duka itu datang, saya sempat komunikasi via WA dengan almarhumah. Selain tanya kabar masing-masing, saya juga menyempatkan memberikan masukan terhadap konten video terkait pencalonannya di Pilkada Sukabumi. Sebuah ikhtiar pengabdian almarhumah untuk kampung halamannya.

Di sela-sela kesibukan pencalonanya, almarhumah biasanya selalu teleponan untuk sekadar update kegiatannya, bicara tentang masa depan PPP hingga nasib umat Islam di Indonesia. Di akhir pembicaraan selalu titip pesan “Jaga kesehatan ya adinda”. Pesan itu tak pernah luput setiap kali berkomunikasi via telepon. Jika bertemu langsung, selalu ngajak diskusi dengan semangat tinggi dan selalu menebarkan optimisme.

Perkenalan saya dengan almarhumah secara tidak langsung mulai tahun 2008. Saat itu saya tercatat sebagai wartawan salah satu media nasional kompartemen politik. Sementara beliau menjabat Wabendum DPP PPP, sehingga membuka peluang komunikasi terkait situasi internal PPP. Ketika almarhumah maju sebagai Caleg di Dapil Jabar IV, namanya semakin menjadi pembicaraan di kalangan media. Sebab, almarhumah menempati urut 1 dalam daftar Caleg tetap, padahal di situ ada incumbent Lukman Hakiem, mantan Sekretaris Fraksi PPP DPR yang menempati nomor urut 2. Tapi itu wajar karena almarhumah pengurus harian DPP, sementara Lukman Hakiem di Majelis.

Pada Pemilu 2009, almarhumah melenggang ke Senayan. Komunikasi kami semakin intens, karena almarhumah menjadi salah satu narasumber favorit khususnya di bidang pendidikan. Harus diakui saat itu sangat jarang politisi perempuan PPP tampil di media. Jika era 2004-2009 ada Lena Maryana Mukti, sejak 2009 diteruskan oleh Reni Marlinawati.

Sejak Muktamar VII Bandung, komunikasi dengan almarhumah semakin intens ketika saya masuk menjadi salah satu Ketua Departemen DPP PPP. Pun demikian, ketika saya masuk menjadi tenaga ahli Pak M. Romahurmuziy, komunikasi dengan Kak Reni – begitu biasanya saya menyapanya – semakin  intens terlebih kami berdua berasal dari lingkungan KAHMI. Saat PPP mengalami prahara di tahun 2014 dan berujung dualisme kepengurusan, Reni mengambil sikap berani yakni memilih berada di barisan Romahurmuziy. Bahkan, saat Muktamar VIII di Surabaya Reni memimpin salah satu sidang pleno. Selama dualisme kepengurusan, Reni Marlinawati tetap konsisten di barisan Romahurmuziy hingga terselenggaranya Muktamar islah tahun 2016. “Saya sudah timbang-timbang adinda. Demi kebesaran partai dan menjunjung konstitusi organisasi saya memilih di sini,” ujarnya waktu itu.

Buah dari konsistensi perjuangan tersebut, Reni Marlinawati dipercaya sebagai Ketua Fraksi PPP DPR. Sebuah prestasi yang memecahkan rekor sejarah karena belum pernah ada politisi perempuan PPP dipercaya sebagai Ketua Fraksi DPR. Selama menjabat Ketua Fraksi, almarhumah selalu hadir memberikan bimbingan dan pencerahan kepada yuniornya, termasuk saya yang baru menjejakkan kaki di parlemen. Berkat keuletan komunikasi politik, Reni dipercaya menjabat Wakil Ketua Komisi X DPR sehingga harus melepaskan jabatannya sebagai Ketua Fraksi.

Kariernya di Senayan berakhir pada 30 September 2019, karena almarhumah tidak mendapatkan kursi pada Pemilu 2019. Setelah tidak menjabat sebagai anggota DPR, Reni lebih banyak waktu ikut mengurus partai selain aktivitas mengajar di sejumlah perguruan tinggi. Setiap ada kesempatan ke DPR, almarhumah mampir ke ruangan 1502 tempat saya berkantor. Tiba – tiba nongol mengucapkan “Assalamu’alaikum saya ganggu adinda ya”. Kalimat itu selalu disampaikannya ketika mampir ke ruangan. “Wah belum berubah ya desainnya.” Maklum ruangan yang saya tempati sebelumnya pernah ditempati almarhumah dan memang desainnya tidak diubah.

Kini semuanya menjadi kenangan. Kak Reni tak akan lagi mampir di lantai 15 Nusantara 1, namun semangat dan jiwanya selalu ada di sini. Tidak ada waktu lagi berteleponan panjang bicara ngalor-ngidul dengan selalu diakhiri “Jaga kesehatan ya adinda”.

Kini dia sudah nyaman di alam sana mendahului kita semua. Dia orang baik, sehingga Allah SWT lebih menghendaki-Nya. Kebaikan Kak Reni tak perlu diragukan lagi. Banyaknya tokoh yang melayat ke rumah duka, hingga ribuan pelayat yang menyambut kedatangan jenazah di Sukabumi menjadi bukti betapa figurnya sangat dirindukan. Sangat menyesal saya tidak bisa ikut merasakan suasana haru itu secara langsung, karena saat bersamaan ada tugas di daerah pemilihan.

Tak terasa sudah hampir 40 hari Reni Marlinawati meninggalkan kami semua. Kami yakin Allah SWT akan menempatkannya di surga. Aamiin!.