Dari Jalanan Menjadi Penghafal Qur’an

Oleh : Miftahul Arifin
Founder Taman Belajar Pelangi Nusantara

Kisah ini berawal dari perempatan lampu merah Manggarai dan perempatan lampu merah Jalan Sultan Agung Jakarta Selatan. Diperempatan ini terdapat anak-anak yang meminta-meminta kesetiap pengendara mobil maupun motor.  ada yang membawa gitar kecil dan kecrekan, sesekali mereka memainkan alat musiknya. Diantara mereka tidak sekolah karena keterbatasan biaya dan rata-rata diantara mereka berumur 5 – 7 tahun.

Diketahui juga mereka ternyata tidur disepanjang bantaran rel kereta di sebelah pasar rumput manggarai, disepanjang itu ada gerobak yang setiap malam digunakan untuk mereka istirahat (tidur) sedangkan disiang hari digunakan untuk mencari rongsokan, ada pula yang hanya tidur dipapan kecil hanya beratapkan plastik dan pada siang hari papan itu dilepas seakan tidak ada gubuk lagi, gubuk itu ada hanya saat malam hari.

Foto Atas Rama dan Raihan Bersama temannya sekolah di Pesantren, foto bawah Raihan dan Rama saat belajar di bantaran rel kereta

Dari sebuah fenomena sederhana ini akhinya kami tergerak menggagas sebuah kelompok belajar untuk anak jalanan yang tidak sekolah, kelompok ini kami beri nama Taman Belajar Pelangi Nusantara.

Dalam seminggu (Sabtu dan Ahad) kami mengajar mereka, dari sini kami banyak berinteraksi dengan orang tua meraka sambil melakukan pendekatan. Mereka bercerita banyak hal tentang kisah hidupnya. Mulai dari yang ringan sampai yang berat-berat, bahkan ada diantara mereka  bercerita kalau dirinya sempat berfikir ingin mengakhiri hidupnya (bunuh diri) namun itu tidak jadi karena masih memikirkan anak-anaknya yang masih kecil yang membutuhkan sosok orang tua.

Sambil mengajar anak-anak tersebut, kami juga melakukan pendekatan dengan orang tua mereka secara pelan-pelan, mendengarkan cerita mereka, dan sesekali membawa makanan untuk mereka. Hingga pada akhirnya kami begitu akrab seakan sudah lepas tidak sungkan dan canggung lagi untuk saling bercerita lebih dalam.

Awal berdiri kami hanya punya lima peserta didik (murid), dan yang aktif setiap minggu belajar bersama kami hanya dua sampai tiga anak, meskipun demikian, namun itu tidak menyurutkan langkah kami untuk terus memberikan pendidikan pada mereka.

Mereka lagi berteduh diatas Papan dengan dibungkus plastik putih, ini yang menjadi tempat tinggal mereka saat dipinggiran rel kereta depan pasar rumput

Kini disepanjang rel kereta depan Pasar Rumput sudah tidak ditemukan lagi gubuk mereka, tempat itu sudah menjadi taman, mereka sudah tergusur dan harus mencari tempat lain yang sekiranya aman dari penertiban pemerintah. Sama halnya dengan adik didik kami pada waktu itu yang setiap hari harus was was dan takut dikejar-kejar oleh Kantib atau Satpol PP. Pernah suatu saat kami mengajar,  adik didik kami tiba-tiba bercerita kalau malamnya pas mereka lagi enak-enak tidur harus bangun dan langsung lari menghindari kejaran Kantib. Pengalaman seperti ini sering mereka alami sebelumnya bahkan bisa sebulan tiga kali.

Berita Terkait:  Akidi Tio dan Mesin Perusak Modal Sosial

Pada 2012, Pemprov DKI Jakarta memang sempat mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 16 Tahun 2012 tentang Pembinaan dan Pengawasan Ketertiban Umum mengenai larangan memberi uang kepada pengemis dengan sanksi denda maksimal Rp 25 juta bagi yang melanggar

Dan saat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjabat jadi gubernur DKI Jakarta pernah mengatakan manusia gerobak itu penipu. Ia juga sempat mengata­kan bahwa manusia gerobak cuma pura-pura miskin.

Menjadi manusia gerobak atau anak jalanan di Jakarta itu bukanlah pilihan yang baik bagi mereka, tapi mereka melakukan itu  karena terpaksa. Banyak sekali orang berpandangan sinis sama mereka, meraka dianggap sebagai pengotor Ibu Kota, dicemooh kanan kiri, bahkan sampai ada yang menuduh penipu. Tentu ini adalah sebuah pandangan yang berlebihan, bagaimanapun mereka adalah manusia yang punya martabat dan harga diri. Apapun pekerjaannya, mereka adalah warga negara Indonesia yang harus dilindungi oleh negara, kita tidak boleh menjudge mereka dengan sesuatu yang merendahkan.

Rama & Raihan makan diatas papan tempat tidur mereka

Kita kembali kecerita lagi, karena merasa tidak aman dari kejaran Kantib dan sudah tidak punya tempat tinggal lagi, akhirnya orang tuanya bercerita ingin memasukkan anaknya kesebuah lembaga Pesantren, harapannya anaknya bisa tinggal disana dan bisa mengenyam pendidikan yang lebih baik, memang sejauh ini anak mereka tidak bisa sekolah, untuk makan saja harus dari meminta-minta, apalagi buat sekolah  tentu mereka  tidak punya biaya.

“Tidak apa-apa jauh dari anak yang penting anak saya mengenyam pendidikan dan punya masa depan lebih baik, cukup saya aja yang hidup dijalanan, meskipun harus menjadi peminta-minta, anak-anak harus punya cita-cita dan impian biar tidak seperti saya yang hanya mengandalkan hidup dari belas kasihan orang lain,” cerita orang tuanya pada saya.

Rama & Raihan saat dipinggiran rel kereta

Tetapi ketika kita tanya lebih dalam lagi sebenarnya motivasi mereka ingin memasukkan anaknya ke pesantren karena sudah tidak punya tempat tinggal lagi dan menghindari dari kejaran Kantib, untuk alasan pendidikan itu hanya alasan yang kesekian. Tetapi tidak masalah, kami memaklumi alasan mereka. Buat kami, ada keinginan anaknya masuk pesantren itu sudah hal yang luar biasa, terlepas dari alasan apapun itu.

Berita Terkait:  Perjuangan Melawan Covid 19 Belum di Garis Finis (bagian 1)

Ahad (12/5/2019) bertepatan dengan 7 Ramadhan 1440 tahun lalu akhirnya kami berangkat kesebuah Lembaga Pesantren milik Pak Le nya teman saya di Lembang Bandung Jawa Barat. Murid pertama kami di Taman Belajar Pelangi Nusantara, Rama dan Raihan berangkat ke Pesantren untuk menimba Ilmu, mereka bersaudara kakak beradik, kira-kira umurnya saat itu Rama 7 tahun dan  Raihan 5 tahun.

Disepanjang perjalanan menuju Lembang Bandung sesekali saya melihat wajah orang tuanya, kebetulan orang tuanya juga kita ajak mengantarkan anaknya ke Pesantren.  ada air mata yang mencoba mereka tahan agar tidak dilihat anaknya, mencoba tegar dan tersenyum dihadapan anak-anaknya. Namun pada akhirnya tangis itu pecah dalam perjalan pulang ke Jakarta. Kami mencoba menghibur dan menguatkannya,  Kami hanya bilang untuk mengikhlaskan anaknya menimba Ilmu, tidak apa-apa pisah sekarang sementara waktu, yang penting kelak anaknya punya masa depan yang baik dan menjadi kebanggaan orang tuanya.

Alhamdulillah hari Ahad (12/7/2020) kemarin, saya dan teman-teman pengajar di Taman Belajar Pelangi Nusantara bisa mengunjungi mereka di Pesantren setelah satu tahun lebih kami tidak bertemu, kami sangat bangga dan bahagia melihat perkembangan mereka. Kini mereka menjelma jadi anak yang calm dan sopan. Dari kehidupan jalanan mereka menapaki hidup yang baru dan sekarang sudah mulai menghafal Al Qur’an.

Rama & Raihan Saat kita kunjungi di Pesantren

Meraka sangat bahagia ketika kami kunjungi, mereka memuluk erat saya, sambil berbisik, om mama tidak ikut? Kebetulan meraka panggil om kesaya sejak pertama bertemu dijalanan. untuk menjawab pertanyaan itu, sebenarnya berat bagi saya. Sambil kucoba pandangi wajah mereka, saya tahu mereka sangat rindu mamanya, karena memang sudah satu tahun mereka tidak bertemu mamanya. Sebelum menjawab saya  menarik nafas terlebih dahulu, dengan mata berkaca-kaca saya bilang mamanya belum bisa ikut sayang karena lagi sibuk dan bekerja. Tiba-tiba mereka lari dan masuk ke kamar sambil mengusap air matanya, saya tidak tahu apa yang terjadi dikamar setelah itu, karena saya memang tidak mengikuti mereka sampai dikamar. Tetapi saya dapat merasakan kalau mereka pasti sangat kangen mamanya dan mereka mungkin hanya bisa menumpahkan air matanya di kamar tidak mau kelihatan oleh saya.

Berita Terkait:  Gibran dan Dhito Dituding Melawan Kotak Kosong, Ini Respons Sekjen PDIP
Rama dan Raihan bersama teman-temannya

Mereka mencoba tegar dan kuat dihadapan saya dan teman-teman, mereka tidak mau kelihatan sedih dan menangis sebabnya mereka lari dan masuk kamar untuk menumpahkan segala kerinduan dan kesedihannya. Setelah 10 menit mereka keluar lagi menghapiri dan duduk disamping saya. Saya pandangi mereka agak lama lalu saya peluk mereka, mata mereka masih sembab seakan mereka telah menumpahkan air mata kerinduannya.

Sebenarnya saya tidak tega melihat mereka yang harus menahan rasa rindu ke mamanya, tetapi inilah memang jalan yang harus dijalani, meskipun kami sedih namun kami juga tidak boleh menampakkan kesedihan dihadapan mereka. Mereka harus menjadi anak-anak yang kuat dengan pendidikan yang baik yang kelak akan menuntun mereka menjadi anak yang hebat, kuat, punya akhlak yang baik serta punya kedalaman spiritual.

Hal yang paling buat saya terharu dan tidak terasa air mata keluar dengan sendirinya, saat saya dan teman-teman disambut dengan doa Asmaul Khusna, disitu bercampur rasa bangga sekaligus bahagia, tidak bisa berucap apa-apa kecuali hanya ucapan syukur Alhamdulillah . Mereka kini telah menjelma menjadi anak yang luar biasa, dari jalanan mereka menapaki hidup menjadi penghafal Al-Quran.

Rama dan Raihan kini bukanlah yang dulu yang harus berjibaku dengan jalanan di perempatan lampu merah meminta-minta, namun karakter dan mental pejuangnya sedikit banyak terbentuk saat mereka hidup diperempatan lampu merah. mereka menjadi sosok anak yang tidak mudah menyerah pada keadaan, mereka lebih dewasa dari umurnya. (Bersambung)

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Stay Connected

0FansSuka
24PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest Articles