Jumat 22 November 2019

Di Kota Paris, Ada Juga Kereta Batal Berangkat

Penulis : Achmad Baidowi

Rabu (10/07) pagi cuaca di Kota Paris, Perancis cukup bersahabat bagi para penghuni maupun turis, terutama bagi mereka yang berasal dari negara tropis. Suhu 22 derajat celcius sangat nyaman bagi turis asal Indonesia. Hari itu sejatinya menjadi pengalaman paling bersejarah buat saya karena hendak menggunakan kereta cepat lintas negara dari Paris, Perancis menuju Turin, Italia. Pemandangan khas pedesaaan Eropa terutama di sekitar Mont Blanc langsung terngiang dalam angan-angan. Ya kapan lagi bisa menikmati situasi cerah di pedalaman Eropa. Sesuai rencana, di Kota Torino tujuan utama Allianz Stadium, markas Juventus FC di pinggiran kota.

Sekitar dua tahun lalu, saya pernah naik kereta cepat di Eropa. Bedanya hanya rute dalam satu negara yakni dari Berlin-Karlsruhe PP di Jerman. Yang membedakan pula saat itu kami berangkat bersama rombongan anggota Pansus RUU Pemilu yang hendak studi banding ke Mahkamah Konstitusi (MK) Jerman. Namun, kali ini saya akan lintas negara sendirian. Sesuai jadwal yang ditentukan, saya berangkat dari hotel Beauchamps di kawasan Champs-Elysées sekitar pukul 05.30 waktu setempat alias molor setengah jam dari jadwal semula.

Setelah agak lama menunggu, datanglah taxi warna putih yang akan membawa ke stasiun Paris Gare de Lyon. Sopirnya ternyata warga Perancis keturunan Aljazair, mirip seperti Zanedine Zidane, pesepakbola muslim yang mengantarkan Perancis merengkuh juara piala dunia pertama kalinya tahun 1998. Jadilah perjalanan itu mengasyikkan karena selain komunikatif, dia juga beragama Islam.

Tiba di stasiun sekitar pukul 05.50 waktu setempat. Kereta SNFC yang menuju Turin dengan tujuan akhir Milan terjadwal berangkat pukul 06.29 dan diperkirakan tiba di Stasiun Torino Porta Susa pada pukul 12.23 waktu setempat. Begitu menjejakkan kaki di stasiun, aroma perjalanan khas negara maju langsung terasa. Beberapa calon penumpang dengan koper berbagai ukuran tampak lalu lalang. Bahkan salah satu dari mereka harus berlari karena melihat jadwal kereta yang cukup mepet.

Saat tiba di Italia

Saya yang masih ada waktu lebih dari setengah jam relatif lebih santai, sambil lalu beranjak menuju monitor besar yang terpasang di hall stasiun. Setiap tulisan dari atas ke bawah saya  baca secara teliti dan fokus pada urutan enam, di situ tertulis jadwal kereta tujuan Milano Porta Garibaldi dengan tulisan kedap-kedip tanpa henti. Feeling pun tak enak, karena tulisan kedap-kedip itu disertai keterangan supprime. Untuk menepis keraguan saya buka senjata andalan yakni android  Samsung Note Fan yang sudah menemani sejak beberapa tahun belakangan. Dalam sekejap google translate menjadi tujuan utama untuk mencari tahu arti kata supprime. Dan artinya pun dihapus atau dicancel. Dengan kata lain, kereta tujuan Torino-Milan pagi itu dibatalkan.

Agar tidak seperti kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan, untuk memastikannya, saya berusaha bertanya kepada petugas gate. Sayangnya pria berkewarakan tinggi besar dengan kulit khas benua Afrika hanya bisa menjelaskan pakai bahasa Perancis dan sedikit berbahasa Inggris. Lengkap sudah, bakal tersesat di negara yang sangat ego dengan bahasa nasionalnya. Cuma dua kata yang dia ucapkan ticket office sambil nunjuk ke arah kejauhan memberikan kode kemana saya harus melangkah.  Setelah sedikit bingung dan berusaha mencari dan bertanya  ke beberapa orang yang ber Id-card, akhirnya bisa menemukan ticket office yang terletak di pojok gedung. Dan sudah pasti ada beberapa penumpang yang antri dengan nasib sama, yakni perjalanan tertunda.

Dari penjelasan seorang staf saya mengetahui bahwa kereta tujuan Milan via Turin tak jadi berangkat karena kendala teknis. Saya pun kaget, ternyata di kota kaliber dunia sekelas Paris pun ada juga kereta batal berangkat. Tak hanya seperti cerita usang di Indonesia. Saya pun segera menghubungi Cahyo Adisaputro, mahasiswa S2 bidang energi di Kota Milan yang membantu saya mengatur jadwal perjalanan untuk mencarikan alternatif. Sambil menunggu informasi lebih lanjut, saya tetap mengambil antrian untuk mendapatkan penjelasan dari petugas.

Beberapa menit kemudian saya sudah berada di hadapan Elmini Naquib, petugas yang melayani komplain penumpang tujuan Torino-Milan. Diawali kata maaf, dia menjelaskan alasan batalnya perjalanan kereta akibat gangguan teknis. Pegawai perusahaan kereta milik pemerintah tersebut memberikan alternatif kereta lain tujuan Chambéry , sebuah kota di Perancis bagian tenggara. Dari kota tersebut saya bisa melanjutkan perjalanan menggunakan kereta atau bus menuju Turin tanpa harus tanpa membeli tiket baru, cukup tiket pengganti yang disiapkan dari Paris. Masalahnya, kereta tujuan Chambéry baru akan berangkat pukul 12.45 waktu setempat. Setidaknya diperkirakan sampai di Turin sekitar pukul 21.00. Jelas ini bukan alternatif ideal, maka dengan sedikit kedongkolan saya putuskan mengubah moda transportasi membuang angan-angan naik kereta lintas negara. Pesawat tujuan Milan dari bandara Paris Orly menjadi alternatif tercepat. Maka jadwal perjalanan pun berubah, dari Paris-Torino-Milan menjadi Paris-Milan-Torino.

Masakapai Vueling asal Spanyol menjadi pilihan terbaik dilihat dari aspek waktu. Harga tiketnya? Sudah pasti cukup mahal karena booking mendadak pada hari yang sama menjadikannya naik 10 kali lipat. Dan beruntung masih mendapatkan seat tersisa sehingga setidaknya perjalanan ke Italia hari itu tetap terlaksana. Setidaknya hasrat lama mengunjungi negeri Pizza dengan melihat megahnya Allianz Stadium markas Juventus FC maupun San Siro markas bersama AC Milan dan Intermilan bisa terwujud. Minimal tidak hanya melihatnya melalui tayangan televisi.

Perjalanan dari Paris Gare de Lyion menuju Paris Orly ditempuh sekitar setengah jam menggunakan taksi. Beruntung sopir taksinya fasih berbahasa Inggris dan pernah datang ke Indonesia. Jakarta dan Bali pernah dikunjunginya sambil bercerita kekagumannya atas keindahan alam di Indonesia, khsusunya pulau dewata Bali. Saya pun senang mendengarnya, Indonesia dikenal warga Eropa. Menjelang tiba di bandara, dia pun menanyakan profesi saya di Jakarta. Wah ini bisa menjadi jebakan batman jika dijawab apa adanya. Ya akhirnya jurus lama muncul yakni pura-pura nggak dengar sambil memainkan ponsel seolah-olah ada panggilan masuk.

Tiba di bandara pesawat yang akan kami tumpangi mengalami penundaan alias delayed, meskipun tidak separah cerita delayed salah satu maskapai di Indonesia. Selesai pemeriksaan paspor oleh petugas maskapai di gate, saya pun bisa masuk ke pesawat. Meskipun tak sesuai rencana awal, akhirnya Italy I am Coming.

Home Nasional Ekonomi Hukum Life Daerah Indeks
© Copyright 2018, all right reserved. www.kanalberita.co