Jumat 22 November 2019

Banyak Jalan Menuju Masjid Roma

Penulis : Achmad Baidowi

Ketika masih duduk di bangku sekolak dasar di kampung halaman, saya seringkali mendengarkan pepatah “Banyak Jalan Menuju Roma”. Pepatah yang diajarkan para guru tersebut menggambarkan untuk mencapai tujuan ataupun cita-cita bisa ditempuh melalui berbagai cara. Termasuk menuju Kota Roma, bisa ditempuh dari berbagai jalan.

Dan saya pun yang dulu hanya berangan-angan bisa menjejakkan kaki di kota Roma, ternyata kini menjadi kenyataan. Selain kata pepatah banyak jalan menuju Roma, kenyataan di lapangan memang cukup banyak jalan menuju Roma. Jika bepergian menggunakan pesawat terbang, berangkat dari Indonesia banyak pilihan rute yang bisa ditempuh. Ada yang transit melalui Timur Tengah seperti; Abu Dhabi, Dubai dan Doha. Ada juga yang melalui Eropa seperti Istanbul, atau kalau mau rute jauh bisa melalui Amsterdam dan juga kota-kota lainnya bergantung pilihan pesawatnya.

Intinya tidak ada maskapai Indonesia yang singgah di Roma, berbeda dengan era 1960-an ketika Garuda Indonesia masih perkasa mengangkasa ke kota Roma. Dari Jakarta saya sendiri memilih rute Jakarta – Amsterdam – Paris – Milan – Roma karena masih ada keperluan di beberapa kota tersebut. Adapun rute pulangnya lebih pendek, Roma-Doha-Jakarta. Sementara jika melalui jalur laut tak bisa dibayangkan, pastinya berminggu-minggu.

Berada di masjid Agung Roma

Yang jelas di kota Roma, jalan sangat banyak dan sempit-rumit, tapi tidak perlu khawatir karena kini ada aplikasi google maps. Jalan-jalan di kota Roma sangat menantang untuk dijelajah. Saya tiba di kota pusat agama Katolik ini pada Kamis (11/7/2019) malam setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam naik kereta dari kota Milan. Dengan kecepatan 250-300 km perjam, armada TRENITALIA malam yang kami tumpangi menembus pinggiran kota Verona, Parma, Bologna lalu menyeberang terowongan menuju Fierenz dan berakhir di stasiun Roma Termini.

Setelah berjalan kaki sekitar 10 menit saya tiba di Hotel California untuk bermalam. Begitu barang bawaan sudah aman di kamar, saya bersama Cahyo Adisaputro, mahasiswa S2 Energi di Kota Milan yang menemani perjalanan selama di Italia, langsung mencari restoran terdekat. Tak butuh waktu lama untuk menemukan restoran yang cocok dengan selera Indonesia. Menu ikan bakar menjadi incaran kami berdua. Lumayan lah sebagai pengantar tidur karena esok hari akan menjajal ruas-ruas jalan di kota Roma.

Jumat (12/7/2019) pagi usai sarapan, kami pun bergegas menuju resipsionis untuk check out. Mengingat jadwal penerbangan ke tanah air masih 14 jam lagi, kami pun menitipkan barang bawaan di hotel, sebagaimana lazimnya kota-kota di Eropa yang menyediakan fasilitas penitipan barang untuk tamu yang hendak keliling kota tapi sudah tiba waktu check out.

Mengunjungi tempat bersejarah, Koloseum

Tentu saja Koloseum yang menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia menjadi tujuan utama kami. Kereta metro menjadi pilihan kami, meskipun kalah dari aspek pemandangan karena jalurnya di bawah tanah, namun unggul dari sisi ketepatan waktu. Jalur MEB1 menjadi sasaran kami. Butuh waktu tunggu sekitar dua menit kereta yang kami tunggu sudah datang. Bergegas kami menyelusup ke dalam stasiun yang penuh sesak. Sayangnya mesin pendingin kereta tersebut tak berfungsi maksimal. Tak heran jika di dalam kereta terasa panas meskipun semua jendela sudah dibuka agar udara bisa masuk.

Sepuluh menit kemudian kami sudah tiba stasiun Colosseo. Begitu keluar dari stasiun, kami langsung berhadapan dengan bangunan megah yang sudah berusia ribuan tahun. Bangunan yang menunjukkan kebesaran imperium Romawi tersebut sampai kini berdiri kokoh. Dulunya merupakan tempat pertandingan Gladiator berkapasitas 50.000 penonton. Ya semacam stadion yang dibangun di tengah kota. Setidaknya butuh sekitar satu jam untuk mengelilingi bangunan tersebut sambil berfoto ria. Keinginan untuk bisa menjelajah ke dalam kompleks wisata harus diurungkan mengingat antrean pengunjung yang sangat panjang.

Puas mengelilingi Koloseum, kami pun beranjak ke Vatikan menggunakan bus kota. Tak perlu bingung dengan tiket karena lazimnya kota-kota Eropa selalu ada tiket terusan yang berlaku per hari, per minggu bahkan bulanan bergantung kebutuhan. Tak ada rute yang langsung sehingga harus transit sesuai dengan jalur yang dikehendaki. Begitu tiba di halte bus, calon penumpang arah Vatikan sudah berjubel. Bahkan ada bus yang tak bisa segera jalan karena pintunya tak  bisa ditutup akibat penumpang berjubel. Sepintas mirip penumpang rebutan naik Metromini di Jakarta. Dengan bahasa Italia, pengemudi pun berulang-ulang mengimbau agar penumpang bisa ikut armada berikutnya. Ada sebagian yang mengerti sehingga langsung turun, namun banyak juga yang nggak paham tetap berjubel di pintu sehingga harus diberikan penjelasan dengan bahasa tubuh.

Salah satu sisi Kota Vatikan yang banyak dikunjungi turis asing

Tak jauh berbeda dengan Kolosium, ribuan pengunjung penuh sesak di Vatikan, negara terkecil dan terunik di dunia. Terkecil karena wilayahnya hanya sekitar 44 ha atau 0,44 kilometer persegi. Jika mengelilingi tembok kota tersebut di musim dingin tak sampai mengeluarkan keringat. Terunik karena kepala negara merangkap kepala agama (gereja), yakni Paus pemimpin agama Katolik dunia. Penjaganya adalah tentara dari Swiss yang terdiri dari laki-laki Swiss beragama Katolik. Ada pemisah antara kekuasan Italia dengan Vatikan yakni pagar tembok serta pembatas teralis besi. Basilika Santo Petrus merupakan bangunan yang menjadi sasaran fotografi maupun tujuan wisata. Namun, karena kami tiba hampir tengah hari antrean pengunjung cukup panjang dan hanya puas jeprat-jepret dari pelataran utama.

Karena hari Jum’at, kami berencana menunaikan shalat Jumat di Masjid Agung Roma. Setidaknya dalam satu hari bisa merasakan nuansa Katolik dengan tanpa mengabaikan kewajiban sebagai umat Islam. Sebagaimana kebiasaan saya mengunjungi kota-kota besar di dunia, sebisa mungkin berusaha singgah di Masjid selain niat ibadah sekaligus untuk melihat perkembangan syiar Islam di belahan dunia.

Naik Metro menjadi pilihan berikutnya. Setidaknya butuh waktu sekitar 10 menit jalan kaki menuju stasiun Ottaviano. Rutenya naik metro MEA jalur oranye akan transit di Flaminio lalu pindah kereta Roma Viterbo 46 jalur hijau menuju stasiun Campi Sportivi. Beberapa menit kemudian, kami sudah berdiri di dalam metro yang mesin pendinginnya masih bagus tak seperti kereta pertama dari Roma Termini. Pindah kereta di Flaminio tak seperti di stasiun lainnya, karena kami harus keluar stasiun untuk pindah ke jalur lainnya.

Jalur kereta Roma Viterbo 46 berada di permukaan tanah menyisir kawasan perbukitan dengan sesekali masuk terowongan. Begitu kereta tiba, kami dibuat kaget karena kondisinya tak seperti kereta-kereta di Eropa pada umumnya. Badan kereta penuh dengan coretan korban vandalisme, komposisi tempat duduk bervariasi, dan tidak dilengkapi mesin pendingin ruangan. Sepintas wujud kondisi keretanya mirip era KRL ekonomi Jabodetabek dengan posisi lokomotif seperti Prambanan Ekspress awal tahun 2000. Begitu kereta menderu, bunyi mesinnya pun mengingatkan pada kereta komuter Surabaya-Waru yang kini masih beroperasi. Kelebihannya rute kereta ini berada di permukaan sehingga bisa menikmati pemandangan pinggiran kota Roma. Setelah melewati tiga pemberhentian, kami pun tiba di Stasiun Campi Sporti. Suasana stasiun cukup sepi karena memang agak jauh dari pusat keramaian maupun permukiman penduduk. Begitu keluar stasiun, kami langsung terpana melihat bangunan megah dengan lambang bulan sabit-bintang menjulang tinggi. Alhamdulillah itulah Masjid Agung kota Roma yang akan kami tuju. Dan ternyata mayoritas penumpang yang turun di stasiun itu juga hendak menuju Masjid.

Suasana di seputaran Masjid pun tak jauh berbeda dengan di tanah air, para pencari amal dan pengemis sudah menunggu jamaah yang lewat. Modusnya pun hampir sama, ada yang membawa selebaran hingga membawa anak kecil untuk menarik perhatian. Begitu memasuki kompleks Masjid semua barang bawaan diperiksa, mungkin inilah yang membedakan dengan masjid-masjid di tanah air. Sesampainya di halaman masjid saya langsung disapa seorang pria berkacamata. “Assalamu’alaikum, dari Indonesia?” begitu sapanya. Kami pun antusias menjawabnya. Belakangan pria ini memperkenalkan diri, namanya Slamet Riyanto (69) yang sejak usia 17 tahun tinggal di Roma. Artinya, sudah 50 tahun Slamet tinggal di Roma. Wah, saya pun belum lahir waktu itu. Meskipun sudah puluhan tahun tinggal di Roma, Slamet Rianto masih tetap tercatat  sebagai WNI, bahkan salah satu putranya kuliah di Malang, Jawa Timur dan kini sudah bekerja di Semarang. Dengan bahasa Indonesia yang mulai agak kabur, Slamet yang berasal dari Bantul, Yogyakarta bercerita, setiap tahun selalu pulang ke Indonesia. Dia pun bangga menunjukkan dokumentasi saat mengunjungi tempat-tempat wisata ternama seperti Bali, Bromo, Karimunjawa dan daerah lainnya. Ya kita harus bangga, karena kekayaan alam di Indonesia sangat luar biasa nyaris tiada duanya di dunia, tinggal bagaimana kita mengelola dan mensyukurinya.

Salah satu moda tranportasi di Roma

Slamet Riyanto merupakan pegawai Garuda Indonesia di bagian darat (bandara Roma), ketika tahun 1960-an maskapai milik pemerintah itu melayani rute Jakarta-Roma. Meskipun Garuda menghentikan operasionalnya ke kota Roma, Slamet memilih tinggal dan bekerja di kota ini. Slamet menikah dengan wanita Indonesia dan dikarunia dua anak. Anaknya yang satu tinggal bersama di Roma, yang satu lagi di Semarang. Slamet menyampaikan bahwa di setiap Jum’at selalu akan bertemu dengan warga Indonesia yang tinggal di Roma.

Lalu Slamet sedikit menceritakan ihwal hadirnya Masjid Agung tersebut, karena saat dia masuk ke Roma  tempat ibadah itu belum berdiri. Masjid Agung Roma atau Granade Moschea mampu menampung jamaah hingga 40 ribu orang dan menjadikannya yang terbesar di Eropa. Masjid yang dibangun di atas lahan hibah seluas 30 ribu meter persegi itu menjadi kebanggaan warga Muslim di Italia. Saat ini, warga Muslim tercatat sebagai pemeluk agama terbesar kedua di Italia. Data statistik resmi Italia terakhir (2005) menyebutkan, jumlah Muslim yang tinggal di Italia diperkirakan antara 960 ribu hingga 1.030 juta orang. Sekitar 40 ribu hingga 60 ribu orang di antaranya merupakan warga negara Italia.

Sebelum Masjid Agung Roma berdiri, warga muslim Italia yang berasal dari Maroko, Albania, Tunisia, Senegal, Mesir, Aljazair, dan negara-negara Afrika Utara serta Timur Tengah, maupun Asia terbiasa melaksanakan kegiatan ibadah di dua masjid besar yang ada di Kota Catania dan Milan.

Tahun 1975, Presiden Italia kala itu, Giovanni Leone, dan Wali Kota Roma, Giulio Carlo Argan, menyetujui pembangunan sebuah masjid di Kota Roma dengan memberikan sumbangan tanah seluas 30 ribu meter persegi kepada Pusat Kebudayaan Islam di Italia. Pada 11 Desember 1984, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Agung Roma oleh Presiden Italia saat itu, Alessandro Pertini. Sementara peresmiannya, dilakukan pada 23 Muharram 1416 H atau bertepatan dengan tanggal 21 Juni 1995.

Dari penuturan Slamet kami mendapatkan informasi jika setiap Minggu, ada aktivitas pendidikan di Masjid ini. Anak-anak muslim dari beberapa sudut kota Roma belajar Islam, mulai belajar baca al-qur’an dengan metode seperti Iqra’. Hal ini sudah bagus mengingat tidak mudah beraktivitas di kota pusat agama Katolik, terlebih Islamphobia masih banyak menjangkiti sebagian masyarakat Eropa.

Berada di dalam kereta yang menjadi salah satu andalan moda tranportasi di Roma

Saat asyik ngobrol menunggu adzan berkumandang, saya dikejutkan dengan bau menyengat yang sepertinya tak asing. Ternyata ada muslimah keturunan Afirka membakar dupa di beberapa sudut masjid sambil komat-kamit, mengingatkan pada emak dan nenek saya di kampung ketika bakar kemenyan-dupa setiap malam Jum’at. Ternyata mereka masih membawa budaya di tanah leluhur ke Kota Roma.

Begitu adzan berkumandang, jangan dibayangkan pakai speaker seperti lazimnya masjid di Indonesia, para jamaah semakin banyak. Beberapa waktu kemudian, khotib membacakan khutbahnya dengan dua bahasa. Khutbah pertama membacakannya dengan bahasa Arab lalu dilanjut khutbah kedua dengan bahasa Italia. Jika di Indonesia, begitu masuk  dluhur  khotib langsung berkhutbah, di sini tidak demikian. Sebab, jika harus tepat waktu maka jamaah dari jauh yang datang naik bus dan kereta bakal ketinggalan. Inilah penerapan fiqih minoritas, yang mengedepankan kebersamaan dan penyesuaian tak harus kaku dan rigid yang terpenting tidak mengurangi keabsahan beribadah. Ya Islam rahmatan lil’alamin, tidak menyulitkan dan tidak perlu fanatik mazhab.

Usai shalat Jum’at kamipun bersalaman dengan saudara muslim, termasuk beberapa jamaah asal Indonesia. Kamipun bercengkerama sebentar mengingat kesibukan masing-masing. Sama halnya seperti di Masjid Istqilal, Jakarta, begitu jamaah meninggalkan areal masjid langsung disambut pedagang kebutuhan pernak-pernik ibadah seperti; buku, tasbih, songkok, minyak wangi, baju hingga sorban bahkan juga ikat pinggang. Namun mereka mengemasnya sangat sederhana, memasukkanya dalam koper besar sehingga lebih praktis. Di tempat ini pula kami berpisah dengan Slamet Riyanto yang saat itu hendak menuju mobilnya. Insyaallah suatu hari nanti kami akan kembali, karena memang banyak jalan menuju masjid Roma.[]

Home Nasional Ekonomi Hukum Life Daerah Indeks
© Copyright 2018, all right reserved. www.kanalberita.co